Kata orang, Idul Fitri adalah hari kemenangan. Harinya tiap orang saling bermaaf-maafan. Menghapus salah dan khilaf setahun yang silam.

Nyatanya, bagi sebagian kalangan, Idul Fitri punya juga makna kompetisi. Kompetisi busana yang cantik-cantik. Kompetisi harta yang mewah-mewah. Atau perlombaan jabatan kerja antar teman dan saudara.

Idul Fitri tak lagi suci. Dia telah jadi salah satu mangsa kapitalisasi. Oleh penguasa, pengusaha bahkan keluarga. Kapitalisasi yang disambut dengan gegap gempita. Dari seluruh penjuru kota hingga pelosok desa.

Mereka mengucap Minal Aizin seperti tabib gadungan merapal mantra anti setan. Kosong, tak bermakna dan berharap bisa mengusir dosa sekelebat saja. Dikiranya masuk surga semudah buang hajat di pinggir kali.

(more…)

Persoalan bahasa. Ternyata memang bukan hal yang simpel berurusan dengan bahasa. Memang bahasa itu manasuka alias kesepakatan. Asalkan kita sama-sama paham, menggunakan simbol apapun tak masalah. Namun bila penggunaan simbol ini sesuka hati sendiri, apalagi ketika masuk di rumah budaya dan bahasa masyarakat lain, maka simbol ini tidak bisa dibuat main-main.

Pernah suatu ketika saya ditanya oleh salah seorang siswi Tingkat 5 dari Methodist Girls School: Dimanakah Tuhan? Sebenarnya, pertanyaan ini datang dari kawan dia yang seorang Nasrani, dan karena tidak dapat memberikan jawaban maka dia tanyakan kepada saya lewat SMS.

Si X : Dimanakah Tuhan?

Saya : Saya tidak mahu langsung memberi jawapannya. Sebelumnya, kalau menurut ukhti dimana?

Si X : Menurut saya, Tuhan ada dimana-mana.

Saya : Berarti di kelas ukhti, di bilik guru, di bilik ukhti sekarang, di dalam bas, di seluruh tempat itu ada Tuhan?

Si X : Itulah soalnya, saya ajukan ke ustaz karena saya tak dapat menjawabnya.

Saya : Menurut saya, Tuhan berada di luar dimensi ruang dan waktu. Kalau dalam Islam dikenal dengan nama Arsy. Hal ini kerana Tuhan adalah Dzat yang immateri, bukan materi. Maka kita tidak bisa menunjuk dengan jemari dimanakah Tuhan berada.

Si X : Maaf ustaz, mohon dijelaskan, ‘materi’ itu apa?

Saya : (Ngiinggggg….. Suara telinga berdengung) Materi adalah semua yang memiliki massa dan menempati ruang. Kalau dalam english disebut sebagai matter.

Si X : Oh…. Syukran ustaz

Tidak lama setelah tanya jawab via SMS tersebut selesai, saya langsung cabut ke satu-satunya toko buku yang saya tahu di kota sebesar Kuala Lumpur dengan tekad ingin menemukan APA BAHASA MELAYU UNTUK KATA MATERI. Setelah mencari-cari dari buku-buku pelajaran Science untuk sekolah menengah, saya baru tahu bahwa ‘materi’ atau ‘matter’ dalam bahasa Melayu disebut sebagai JIRIM! Dan kata ‘massa’ (yang tadi saya gunakan dengan maksud mempermudah definisi) ternyata disebut sebagai JISIM.

Peristiwa ini tentu membuat saya curiga sekaligus waspada, jangan-jangan selama ini pas diskusi ngalor-ngidul tentang ini-itu ada pemahaman yang hilang karena berbeda bahasa teknis semacam ini. Maka, di hari-hari berikutnya, persiapan diskusi tidak lagi sekedar menyiapkan konstruksi ide dan konsep semata, melainkan sampai tataran kata-kata apa yang digunakan untuk menyampaikan ide di dalam batok kepala ini.

Peristiwa lain membuat saya terkejut dan malu setengah mati. Tepatnya ketika berdiskusi dengan salah seorang mahasiswa di masjid Universiti Malaya. Diskusi ini membahas masalah ‘akar persoalan umat Islam saat ini. Setelah melalui proses diskusi yang panjang, si mahasiswa sepakat bahwa persoalan utama adalah karena umat Islam tidak beriman secara ilmiah.

Mahasiswa: Saya sependapat, memang sebagian besar umat Islam saat ini cenderung beriman karena keturunan, bukan dengan ilmu pengetahuan.

Saya: Jika demikian halnya, maka kita butuh sebuah kajian yang mampu membangun keimanan muslim secara ilmiah.

Mahasiswa: Tunggu, tunggu!! Apa maksud anda? (dengan mata melotot dan nada bicara tinggi yang tertahan)

Saya: (terkejut dan terdiam seketika) Maksud yang mana? (Bingung dan kedap-kedip saja mata ini)

Mahasiswa: Butuh, apa maksudnya itu?

Saya: Maksud saya, kita perlukan kajian Islam yang ilmiah

Mahasiswa: Jangan sekali-kali sebut kata itu (butuh, red), teruk sangat itu.

Saya: Maaf, maaf, saya tidak tahu

Dan diskusi pun dilanjutkan lagi setelah interupsi tersebut.Setelah searching, ternyata ‘butoh’ adalah sebutan alat kelamin pria. Ya ALLAH!!! Bayangkan, ini orang mau menawarkan kajian Islam Ilmiah koq malah menyebut-nyebut ‘hal itu’. Ya jelas saja dia melotot dan emosi tinggi. Tinggal saya yang menanggung rasa malu dalam hati.

Oh, Bahasa…… Betapa berharganya dirimu……

Salah satu hal yang menarik untuk dideskripsikan dari Malaysia adalah sistem pendidikan sekolah menengah yang berjalan di sana. Bagi mereka yang hidup di negara-negara persemakmuran Inggris,tentu tidak heran dengan sistem pendidikan yang berlaku di Malaysia. Namun bagi kita-kita masyarakat yang tidak menganut sistem British, maka hal ini menjadi sesuatu yang baru sekaligus memunculkan perbedaan peluang dan tantangan.

Sistem Belajar

Di Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur (WPKL) terdapat lebih dari 40 Sekolah Menengah Kebangsaan yang disingkat SMK (sama dengan SMA Negeri di Indonesia). Identitas sekolah bukan menggunakan angka sebagaimana di Indonesia, melainkan menggunakan NAMA. Nama dipilih bisa berdasarkan tempat sekolahnya berada, bisa pula karena faktor-faktor lainnya. Beberapa sekolah yang menjadi favorit alias terbaik dari kaumnya antara lain adalah SMK Aminuddin Baki, SMK Seri Bintang Utara, SMK Seri Bintang Selatan, SMK Kepong Baru SMS (Sekolah Menengah Sains) Alam Shah dan SMT (Sekolah Menengah Teknik) KL. Sekolah ini dikatakan terbaik karena syarat kemasukannya minimal adalah 6A.

Apakah 6A itu? Bagi mereka pecinta novel serial Harry Potter tentu akan mudah mengenalinya.

(more…)

Jika ada yang menanyakan hal apa paling khas dari Malaysia, maka SENTIMEN ETNIS-lah jawabannya. Mulai dari dasar pemerintahan, sistem dan perundangan yang dibuat, hingga budaya dan refleks perilaku masyarakatnya. Kalau mengutip quote dalam film The Freedom Writers: IT’S ALL ABOUT COLOUR!

Semenjak awal masa kemerdekaan, orang-orang Melayu sudah menegaskan jati diri bangsa mereka sebagai The Land Lord. Sedangkan orang-orang Chinese dan Indians adalah Para Pendatang. Melayu berpandangan bahwa: Sampai kapanpun, Chinese dan Indians tidak mungkin bisa menjadi Malayans. Oleh karena itu, sampai kapan pun juga akan tetap berbeda. Karena berbeda, maka bagaimanapun juga tidak bisa dan tidak boleh disamakan. Kalau orang Chinese dan Indians terjajah, mereka bisa kembali ke tanah nenek moyang mereka di China dan India. Tapi kalau orang Melayu terjajah, kemana mereka hendak berlari? Tak ada kan? Maka itu, Melayu harus jadi Tuan di Tanah Sendiri.

Demikianlah kira-kira pokok pandangan para pemimpin Melayu di masa awal kemerdekaan yang kemudian dikekalkan dalam UUD mereka serta ditanamkan dari generasi ke generasi. Dengan dasar ideologi macam ini, jelas seluruh sistem yang dibangun juga mengacu kepadanya. Di bawah ini dipaparkan beberapa contoh kasusnya.

(more…)

Selama seminggu kemarin saya masih berkutat dengan calon-calon obyek dakwah, baik yang pelajar maupun mahasiswa. Sekaligus baru terasa susahnya mendapatkan obyek dakwah. Dari sekian kali ketemu, kenalan, dialog sekilas dan juga diskusi, sulit sekali untuk langsung bisa mendapatkan respon yang benar-benar sesuai harapan ideal. Posting kali ini adalah gambaran proses selama seminggu ini saya mencoba berinteraksi dengan kalangan mahasiswa. Untuk kalangan pelajar, saya tulis di lain postingan.
 
Pas hari Jum’at saya sengaja Sholat Jum’at di masjid Universiti Malaya (UM). Univ ini dikenal sebagai universitas terbaik di Malaysia. Hari Jum’at begini mestilah banyak mahasiswa di sana. Targetnya bisa dapat kenalan. Untung-untung bisa ngajak diskusi sekalian. Saya menjadikan Kajian Islam Ilmiah tentang Thailand Selatan sebagai pintu masuk diskusi saya. Kebetulan kemarin hari pernah diadakan kajian itu disana tapi saya tidak hadir.
 
Setelah Jumatan, di luar masjid ada suara mahasiswa teriak-teriak. (more…)

Di bawah ini ditampilkan beberapa gambar hasil jepretan selama seminggu pertama. Tidak semua pengalaman terabadikan karena banyak kendala teknis. Tapi insya Allah gambar-gambar di bawah ini akan memberikan sedikit gambaran tentang keadaan kota ini.

Pertama, dimulai dari kos-kosan tempat tinggal yang sekarang. Ruangan yang anda lihat di bawah ini ditinggali oleh 2 orang (berkongsi) dengan harga per bulan RM250 (sekitar Rp. 750.000). Jadi, tiap orang dikenai RM125 (sekitar Rp. 375.000) per bulan. Padahal kos-kosan ini berada di kawasan Selangor pinggiran KL, bukan di kawasan-kawasan dalam KL sendiri.

(more…)

Hari ini adalah Jum’at pertama di Malaysia, yang juga berarti Shalat Jum’at pertama di negeri jiran. Momen ini saya tunggu-tunggu karena menjadi salah satu momen untuk mengetahui pandangan Islam macam mana dan isu yang seperti apa yang menjadi topik bahasan di negara dengan Islam sebagai agama resminya. Sekaligus menjadi pembanding dengan pengalaman pemikiran Islam di negara asal.

Dulu ketika masih di Indonesia, selalu mendapatkan ‘motivasi tambahan’ setiap kali mengikuti shalat Jum’at. Motivasi ini muncul berupa semangat perlawanan terhadap apa-apa yang disampaikan dengan berapi-api oleh para khatib di depan mimbar, dan ditelan mentah-mentah oleh seluruh jama’ah. Pengalaman yang betul-betul saya ingat adalah ketika Shalat Jum’at di Jakarta, tepatnya di belakang kantor Majalah Femina di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Sang khatib dengan begitu percaya diri dan penuh semangat, menyampaikan kepada seluruh jamaah bahwa dalam mempelajari Islam akal haruslah ditanggalkan. AQ dan Sunnah sudah sempurna, dan kita hanya diperintah untuk mengikutnya. Tak perlu kita menggunakan tafsiran-tafsiran akal yang membuat semuanya menjadi serba tak jelas. Perkataan sang khatib benar-benar bagai petir di siang bolong.

Bukan, bukan karena saya tak familiar dengan pemikiran ini. Jelas sudah sangat sering membahasnya. Khutbah dia menjadi ‘petir di siang bolong’ karena itu terjadi langsung di hadapan, di tengah warga ibukota yang dikenal paling megapolitan se-Indonesia. Apalagi kedatangan saya kesana adalah untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan ke negeri seberang. Ingin kuteriak kepada semua orang: ‘Lha dia yang melarang mentafsir pake akal itu terus menangkap isi AQ pake apa? Pake dengkul?’ Lantas, waktu 15 menit dihabiskan untuk meredam amarah akibat pembunuhan pemikiran umat Islam yang terjadi di depan mata.

(more…)