Persoalan bahasa. Ternyata memang bukan hal yang simpel berurusan dengan bahasa. Memang bahasa itu manasuka alias kesepakatan. Asalkan kita sama-sama paham, menggunakan simbol apapun tak masalah. Namun bila penggunaan simbol ini sesuka hati sendiri, apalagi ketika masuk di rumah budaya dan bahasa masyarakat lain, maka simbol ini tidak bisa dibuat main-main.

Pernah suatu ketika saya ditanya oleh salah seorang siswi Tingkat 5 dari Methodist Girls School: Dimanakah Tuhan? Sebenarnya, pertanyaan ini datang dari kawan dia yang seorang Nasrani, dan karena tidak dapat memberikan jawaban maka dia tanyakan kepada saya lewat SMS.

Si X : Dimanakah Tuhan?

Saya : Saya tidak mahu langsung memberi jawapannya. Sebelumnya, kalau menurut ukhti dimana?

Si X : Menurut saya, Tuhan ada dimana-mana.

Saya : Berarti di kelas ukhti, di bilik guru, di bilik ukhti sekarang, di dalam bas, di seluruh tempat itu ada Tuhan?

Si X : Itulah soalnya, saya ajukan ke ustaz karena saya tak dapat menjawabnya.

Saya : Menurut saya, Tuhan berada di luar dimensi ruang dan waktu. Kalau dalam Islam dikenal dengan nama Arsy. Hal ini kerana Tuhan adalah Dzat yang immateri, bukan materi. Maka kita tidak bisa menunjuk dengan jemari dimanakah Tuhan berada.

Si X : Maaf ustaz, mohon dijelaskan, ‘materi’ itu apa?

Saya : (Ngiinggggg….. Suara telinga berdengung) Materi adalah semua yang memiliki massa dan menempati ruang. Kalau dalam english disebut sebagai matter.

Si X : Oh…. Syukran ustaz

Tidak lama setelah tanya jawab via SMS tersebut selesai, saya langsung cabut ke satu-satunya toko buku yang saya tahu di kota sebesar Kuala Lumpur dengan tekad ingin menemukan APA BAHASA MELAYU UNTUK KATA MATERI. Setelah mencari-cari dari buku-buku pelajaran Science untuk sekolah menengah, saya baru tahu bahwa ‘materi’ atau ‘matter’ dalam bahasa Melayu disebut sebagai JIRIM! Dan kata ‘massa’ (yang tadi saya gunakan dengan maksud mempermudah definisi) ternyata disebut sebagai JISIM.

Peristiwa ini tentu membuat saya curiga sekaligus waspada, jangan-jangan selama ini pas diskusi ngalor-ngidul tentang ini-itu ada pemahaman yang hilang karena berbeda bahasa teknis semacam ini. Maka, di hari-hari berikutnya, persiapan diskusi tidak lagi sekedar menyiapkan konstruksi ide dan konsep semata, melainkan sampai tataran kata-kata apa yang digunakan untuk menyampaikan ide di dalam batok kepala ini.

Peristiwa lain membuat saya terkejut dan malu setengah mati. Tepatnya ketika berdiskusi dengan salah seorang mahasiswa di masjid Universiti Malaya. Diskusi ini membahas masalah ‘akar persoalan umat Islam saat ini. Setelah melalui proses diskusi yang panjang, si mahasiswa sepakat bahwa persoalan utama adalah karena umat Islam tidak beriman secara ilmiah.

Mahasiswa: Saya sependapat, memang sebagian besar umat Islam saat ini cenderung beriman karena keturunan, bukan dengan ilmu pengetahuan.

Saya: Jika demikian halnya, maka kita butuh sebuah kajian yang mampu membangun keimanan muslim secara ilmiah.

Mahasiswa: Tunggu, tunggu!! Apa maksud anda? (dengan mata melotot dan nada bicara tinggi yang tertahan)

Saya: (terkejut dan terdiam seketika) Maksud yang mana? (Bingung dan kedap-kedip saja mata ini)

Mahasiswa: Butuh, apa maksudnya itu?

Saya: Maksud saya, kita perlukan kajian Islam yang ilmiah

Mahasiswa: Jangan sekali-kali sebut kata itu (butuh, red), teruk sangat itu.

Saya: Maaf, maaf, saya tidak tahu

Dan diskusi pun dilanjutkan lagi setelah interupsi tersebut.Setelah searching, ternyata ‘butoh’ adalah sebutan alat kelamin pria. Ya ALLAH!!! Bayangkan, ini orang mau menawarkan kajian Islam Ilmiah koq malah menyebut-nyebut ‘hal itu’. Ya jelas saja dia melotot dan emosi tinggi. Tinggal saya yang menanggung rasa malu dalam hati.

Oh, Bahasa…… Betapa berharganya dirimu……