Jika ada yang menanyakan hal apa paling khas dari Malaysia, maka SENTIMEN ETNIS-lah jawabannya. Mulai dari dasar pemerintahan, sistem dan perundangan yang dibuat, hingga budaya dan refleks perilaku masyarakatnya. Kalau mengutip quote dalam film The Freedom Writers: IT’S ALL ABOUT COLOUR!

Semenjak awal masa kemerdekaan, orang-orang Melayu sudah menegaskan jati diri bangsa mereka sebagai The Land Lord. Sedangkan orang-orang Chinese dan Indians adalah Para Pendatang. Melayu berpandangan bahwa: Sampai kapanpun, Chinese dan Indians tidak mungkin bisa menjadi Malayans. Oleh karena itu, sampai kapan pun juga akan tetap berbeda. Karena berbeda, maka bagaimanapun juga tidak bisa dan tidak boleh disamakan. Kalau orang Chinese dan Indians terjajah, mereka bisa kembali ke tanah nenek moyang mereka di China dan India. Tapi kalau orang Melayu terjajah, kemana mereka hendak berlari? Tak ada kan? Maka itu, Melayu harus jadi Tuan di Tanah Sendiri.

Demikianlah kira-kira pokok pandangan para pemimpin Melayu di masa awal kemerdekaan yang kemudian dikekalkan dalam UUD mereka serta ditanamkan dari generasi ke generasi. Dengan dasar ideologi macam ini, jelas seluruh sistem yang dibangun juga mengacu kepadanya. Di bawah ini dipaparkan beberapa contoh kasusnya.

Pertama, dalam komunikasi media massa. Di Indonesia, saya tak pernah menjumpai ada koran atau media massa yang menggunakan bahasa Jawa dalam pemberitaannya, kecuali Stasiun TV lokal alias swasta. Padahal, etnis Jawa adalah etnis mayoritas dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi jika anda datang kesini, maka akan anda jumpai koran-koran nasional yang menggunakan bahasa dan aksara Mandarin (Chinese) dan Tamil (Indians) sebagai bahasa pemberitaannya. Siapa konsumennya? Ya tentulah orang-orang dari etnis itu sendiri. Apa isinya? Saya tak tahu, wong bisa baca tulisannya saja nol besar.

Kedua, dalam sistem pendidikan. Di Indonesia, saya tak pernah menjumpai sekolah negeri (baik SD, SMP maupun SMA) yang dikhususkan untuk orang Jawa, China, atau selainnya. Meskipun ada sekolah-sekolah swasta semacam Stella Maris, St Agnes, dsb yang mayoritas adalah orang China, tapi tak pernah ada ketentuan dan perundang-undangan bahwa itu adalah SEKOLAH KHUSUS ORANG-ORANG CHINA. Tapi jika anda disini, maka anda akan bisa menjumpai Sekolah Rendah dan Sekolah Menengah Negeri yang Khusus untuk orang-orang Chinese serta Sekolah yang Khusus untuk orang-orang India. Maka, kepala sekolah, guru, siswa, bahasa pengajaran, bahasa pergaulan, bahan bacaan, dan sebagainya pasti menggunakan Bahasa Mandarin (untuk Jenis Chinese) dan Bahasa Tamil (untuk Jenis Tamil).

Dalam sistem pendidikan ini pula diberlakukan sistem quota berupa prosentase untuk bumiputera. Jadi, di sekolah-sekolah negeri tertentu semacam Victoria Institution, atau Universiti Teknologi MARA (UiTM), diberlakukan aturan sekian persen dari total kursi mahasiswa baru adalah disediakan untuk bumiputera (sebutan untuk warga asli Malaysia, yang lebih banyak mengacu kepada orang-orang Melayu itu sendiri). Bahkan di UiTM kemarin dulu terjadi demonstrasi besar-besaran mahasiswa kepada rektor, dikarenakan sang rektor menelurkan ide untuk membuka sekian prosen pagu untuk mahasiswa non-bumiputera dan mahasiswa internasional.

Jadi, meskipun ada orang-orang Chinese atau Indian yang berprestasi lebih baik, tapi kalau sudah memenuhi batas quota prosentase-nya, maka mereka tidak diterima. Sebaliknya, jika ada orang Melayu yang meskipun secara prestasi lebih rendah dari orang-orang Chinese dan Indian itu tadi, tapi kalau secara quota masih tersedia, ya tidak apa-apa dimasukkan. Mencengangkan, bukan?

Ketiga, dalam sistem perpartaian. Di Indonesia, partai didirikan atas dasar perbedaan ideologi, atau agama, atau untuk kepentingan-kepentingan politik pragmatis (biasanya yang terakhir ini partai-partai gurem). Hampir tidak ada satu partai khusus yang itu untuk satu jenis etnis tertentu. Adapun di Aceh, itu adalah partai lokal yang mewakili daerah, bukan Etnis. Kita tak pernah menjumpai Partai Persatuan Orang Jawa se-Indonesia, atau Partai Persatuan Orang Ambon Manise se-Indonesia, atau semacam itu.

Tapi jika anda disini, anda akan menjumpai sebagian besar partai didirikan atas dasar etnis. UMNO (United Malay Nation Organization) adalah partai untuk orang Melayu. MCA (Malaysian-Chinese Association) adalah partai untuk orang China. MIC (Malaysian-Indian Congress) adalah partai untuk orang India. Jadi, anda memilih partai adalah berdasar apa warna kulit anda, apa etnis anda. Meskipun, dalam perkembangan, beberapa anggota UMNO yang tidak puas akhirnya keluar dari UMNO dan membuat partai sendiri, yakni PAS (Parti Islam se-Malaysia, yang berasaskan Islam) dan yang terbaru ini adalah PKR (Partai Keadilan Rakyat).

Belum lagi yang terjadi dalam hal pencarian pekerjaan, peminjaman modal, dsb. Semuanya itu lebih memprioritaskan orang Melayu. Pengistimewaan ini yang kemarin dulu sempat menjadi salah satu alasan terjadinya demonstrasi besar-besaran di Kuala Lumpur, yang dikenal sebagai gerakan BERSIH. Selain perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan politik pemerintah, orang-orang China dan India juga mengikuti kampanye BERSIH ini sebagai langkah untuk meminta persamaan hak kepada pemerintah.

Itu dalam sistem-sistem formal di negara ini.

Dalam refleks perilaku sehari-hari, kita bisa jumpai dalam hal-hal kecil seperti misalnya di dalam bus. Jika anda mengamati refleks orang-orang dalam mencari tempat duduk, pasti mereka akan mencari tempat duduk yang di sebelah mereka adalah orang yang sesama etnis. Meskipun sama-sama orang asing dan sama-sama tidak kenal, tapi pasti jadi refleks melihat kepada etnis orang itu dulu. Baru menentukan kursi itu diduduki atau tidak. Kecuali dalam keadaan terpaksa seperti tidak ada tempat duduk lain, atau kondisi berdesak-desakan.

Keseluruhan sistem dan budaya yang terbangun ini membawa implikasi yang tidak sedikit dalam kehidupan sosial. Terutama terhadap penyikapan orang-orang Malaysia terhadap kaum pendatang.

Apa yang dikenal sebagai RELA, serta apa yang diberitakan tentang mereka, bukanlah satu hal bohong belaka. Tapi memang benar-benar demikian adanya. Kemudian dalam kolom-kolom surat pembaca di koran harian orang-orang Melayu, selalu ada orang-orang yang mengajukan kepada Pemda setempat untuk merazia para ‘pendatang yang tidak jelas identitasnya dan meresahkan masyarakat’. Entah itu benar-benar ada atau tidak.

Ketika kemarin dulu memanas isu tentang penyiksaan pembantu rumah yang orang Indonesia, salah satu surat kabar milik orang Melayu menulis artikel untuk mengcounter opini tersebut. Salah satu artikel menuliskan bahwa: Kita Juga Mangsa! (Artinya: Kita Juga Korban, bukan hanya orang Indonesia). Tulisan itu menceritakan tentang kisah seorang penduduk Malaysia yang diceritakan disiksa dan diperas hartanya oleh pembantu rumah tangga dari Indonesia. Tulisan itu meminta kepada pemerintah Malaysia untuk tidak hanya menyoalkan masalah perlindungan kepada pembantu rumah tangga, tapi juga perlindungan terhadap majikan. Karena dia yakin pasti banyak lagi kasus-kasus serupa yang lain. Meskipun dia tidak menunjukkan kasus-kasus yang mana yang dimaksud.

Di artikel yang lain di hari yang lain juga menuliskan tentang kisah pengalaman hidup dan bekerja seorang pembantu rumah tangga dari Indonesia, yang hidup dengan baik dan diperlakukan secara sangat baik sekali oleh majikannya di Malaysia. Tulisan ini dalam rangka menunjukkan bahwa tidak semua majikan itu buruk, dan tidak semua pembantu rumah tangga diperlakukan secara zalim. Ini untuk merespon adanya pemberitaan yang menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia merencanakan untuk menghentikan pengiriman TKI untuk pembantu rumah tangga.

Implikasi lebih lanjut pada akhirnya sentimen etnis ini menjadi mindset orang-orang dalam menilai siapapun yang dijumpai di sekitarnya.

Pernah suatu ketika saya mendapatkan pengalaman buruk itu. Saat itu saya hanya berpakaian hem biasa, celana jeans dan sepatu kets a la mahasiswa. Tapi karena saat itu peluh sedang bercucuran, dan saya naik bis pada saat jam pulang kerja, saya dipandangan dengan begitu remeh oleh sang supir bus dan seorang kawannya yang warga Malaysia. Pokok persoalannya sepele, saya salah menunjukkan tiket bus dan saya kelabakan mencarinya. Pandangan dan perkataan mereka yang meremehkan sekali membuat saya jengkel setengah mati. Tentu dengan kondisi dan konteks macam itu, saya dikira seorang TKI Indon yang ‘melakukan permainan apa lagi’. Itu yang terucap oleh mereka. Sampai akhirnya tiket saya ketemu, dan saya tunjukkan kepada mereka, baru mereka memandang dua kali kepada saya. Ingin memastikan bahwa saya bukan seperti yang mereka kira pada awalnya.

Bukan, bukan karena saya tidak mau dicap TKI wong memang dalam kenyataannya saya memang TKI. Hehehe…… Persoalannya adalah penilaian meremehkan yang mereka lakukan, dan baru memandang dua kali serta mengamati lebih dalam ketika saya berhasil menunjukkan tiket saya. Dalam pemikiran saya, sebegitu tidak percaya-nya kah mereka? Tapi itulah kenyataan hidup di negeri orang.

Dengan keseluruhan hal-hal yang berlaku di atas, membuat perasaan was-was dan takut selalu muncul setiap kali keluar rumah. Apalagi kalau keluar malam hari. Yang saya tak habis pikir adalah, di negara yang menyatakan dan menganggap dirinya sebagai Negara Maju, masih hidup dan berlaku pula isu etnis sebagai pendasaran hidupnya. Seakan-akan kemajuan dan kemodernan itu hanya fisikal dan slogan semata. Sedangkan paradigma pemikiran dan sikap mental mereka masih tetap selevel negara sedang berkembang lainnya.

Menimbang hal-hal semacam inilah maka dalam beberapa kali diskusi saya dengan pelajar dan mahasiswa, saya selalu menanyakan kepada mereka: Apakah status saya sebagai orang Indonesia membuat anda curiga dan apakah mengurangi kualitas dari pemikiran-pemikiran yang saya sampaikan? Sebagian menjawab iya, sebagian menjawab tidak.

Pada saat yang bersamaan, saya mengucap ‘Alhamdulillah’ dan ‘Nauzubillahi min dzalik……’