Kata orang, Idul Fitri adalah hari kemenangan. Harinya tiap orang saling bermaaf-maafan. Menghapus salah dan khilaf setahun yang silam.

Nyatanya, bagi sebagian kalangan, Idul Fitri punya juga makna kompetisi. Kompetisi busana yang cantik-cantik. Kompetisi harta yang mewah-mewah. Atau perlombaan jabatan kerja antar teman dan saudara.

Idul Fitri tak lagi suci. Dia telah jadi salah satu mangsa kapitalisasi. Oleh penguasa, pengusaha bahkan keluarga. Kapitalisasi yang disambut dengan gegap gempita. Dari seluruh penjuru kota hingga pelosok desa.

Mereka mengucap Minal Aizin seperti tabib gadungan merapal mantra anti setan. Kosong, tak bermakna dan berharap bisa mengusir dosa sekelebat saja. Dikiranya masuk surga semudah buang hajat di pinggir kali.

Semoga, di tengah-tengah kemunafiqan zaman, masih ada orang-orang yang peduli dengan agama. Menjadikan Idul Fitri benar-benar berarti. Merekalah yang tiada bosan terus mengkaji. Mewujudkannya dalam taraf amali. Menyisihkan kepentingan pribadi demi pengabdian pada Ilahi.

Dan kepada orang-orang seperti inilah catatan kecil ini kupersembahkan. Mereka inilah saudara-saudara sejatiku dari sekarang hingga kehidupan yang akan datang. Mereka inilah yang benar-benar telah mengecapi makna dari keimanan sejati.

Kepada saudara-saudaraku, mohon terimalah uluran maafku. Memang benar Idul Fitri tak menghapus apa yang telah terjadi. Tapi semoga dengan semangat kemaafan di hari kemenangan, kita bisa belajar dari segala kesalahan.

Taqabbalallahu minna wa minkum…

Mohon maaf zahir dan batin…