Di bawah ini ditampilkan beberapa gambar hasil jepretan selama seminggu pertama. Tidak semua pengalaman terabadikan karena banyak kendala teknis. Tapi insya Allah gambar-gambar di bawah ini akan memberikan sedikit gambaran tentang keadaan kota ini.

Pertama, dimulai dari kos-kosan tempat tinggal yang sekarang. Ruangan yang anda lihat di bawah ini ditinggali oleh 2 orang (berkongsi) dengan harga per bulan RM250 (sekitar Rp. 750.000). Jadi, tiap orang dikenai RM125 (sekitar Rp. 375.000) per bulan. Padahal kos-kosan ini berada di kawasan Selangor pinggiran KL, bukan di kawasan-kawasan dalam KL sendiri.

Kos2an 1

Kos2an 2

Kos2an 3

 

Kedua, gambaran suasana kantor Imigrasi di Putrajaya.

Imigresen 1

Imigresen 2

Imigresen 3

 

Berikutnya, pemerintah kota KL dalam melakukan penataaan perumahan warga lebih banyak menggunakan sistem apartemen. Mungkin ini karena ketersediaan lahan yang terbatas, sedangkan kepadatan populasi paling tinggi di Malaysia. Secara luas, KL sedikit lebih kecil dari Surabaya. Tapi lahan-lahan kota yang ada lebih banyak digunakan untuk gedung-gedung, perkantoran, pertokoan dan jalan-jalan raya yang lebar dan tinggi (highway). Walhasil, ini berpengaruh terhadap pola pemukiman masyarakat yang lebih banyak menggunakan apartemen daripada rumah flat seperti pada umumnya.

Perumahan KL 1

Perumahan KL 2

Perumahan KL 3

 

Di Surabaya memang juga ada apartemen-apartemen dan/atau rumah susun. Tapi sejauh yang saya tahu, ia tidak begitu luas di seluruh area pemukiman kota. Melainkan hanya di kawasan tertentu saja. Tapi di KL, apartemen tersebar hampir di seluruh kawasan kota. Dan ia tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat ekonomi menengah atas, melainkan warga biasa pun cenderung memilihnya karena cost yang lebih murah daripada tinggal di rumah flat. Rumah-rumah flat biasanya ada di kawasan pinggir kota, atau di kawasan dekat perkilangan (pabrik-pabrik).

Berikut ini adalah gambaran perumahan umum di kawasan Kampung Pandan. Kawasan ini dikenal banyak orang Indonesianya.

Kampung Pandan 1

Kampung Pandan 2

Kampung Pandan 3

Kampung Pandan 4

Kampung Pandan 5

Kampung Pandan 6

 

Kabar baik tentang prospektus ekonomi masyarakat KL adalah bahwa hampir setiap rumah, hampir setiap keluarga mulai dari kelas menengah, pasti memiliki mobil. Ada banyak sebab kenapa orang memilih menggunakan mobil dan bukannya sepeda motor. Salah satunya adalah alasan keamanan. Naik motor lebih beresiko nyawa daripada menggunakan mobil.

Itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah bahwa masyarakat muslim di kota ini hanya berprosentase kurang dari 50%. Masyarakat China, yang notabene mayoritas adalah budha-kristen-konghucu, menguasai populasi sebesar 40%. Masyarakat Melayu, yang mayoritasnya adalah Muslim, juga menguasai sekitar 40% populasi. Masyarakat India, yang rata-rata beragama Hindu, populasinya sekitar 10% dari seluruh warga kota. Sisanya adalah pendatang.

Dari hasil observasi terhadap 2 sekolah negeri terbaik di kota ini, yakni SMK Kepong Baru dan SMK Methodist Boys, mayoritas siswanya adalah orang-orang etnis China. Bahkan di Kepong Baru, 95% siswanya adalah Chinese. Di Methodist sekitar 70% adalah Chinese. Keduanya adalah sekolah dengan hasil akademik yang paling bagus. Sudah begitu, hasil-hasil akademik terbaik di masing-masing sekolah tersebut SELALU DIPEGANG OLEH ETNIS CHINESE.

Siswa dari etnis Melayu lebih banyak ada di sekolah-sekolah yang secara grade hasil pendidikan terbilang ‘biasa’, seperti SMK Bangsar, SMK Methodist Girls, SMK Pandan Jaya, SMK Pandan Indah, dsb. Sekolah-sekolah ini cenderung kurang menonjol dalam hal prestasi akademik.

Namun, meski demikian, peluang mereka untuk masuk ke PTN cukup besar karena ada aturan prosentase quota tertentu untuk siswa-siswa bumiputera dan kewarganegaraan Malaysia. Hal ini yang menjaga siswa-siswa dari etnis Melayu tetap bisa masuk ke PTN-PTN yang ada di negara ini.

Demikian ulasan sementara tentang sedikit kondisi sosial dan pendidikan kota KL.