Hari ini adalah Jum’at pertama di Malaysia, yang juga berarti Shalat Jum’at pertama di negeri jiran. Momen ini saya tunggu-tunggu karena menjadi salah satu momen untuk mengetahui pandangan Islam macam mana dan isu yang seperti apa yang menjadi topik bahasan di negara dengan Islam sebagai agama resminya. Sekaligus menjadi pembanding dengan pengalaman pemikiran Islam di negara asal.

Dulu ketika masih di Indonesia, selalu mendapatkan ‘motivasi tambahan’ setiap kali mengikuti shalat Jum’at. Motivasi ini muncul berupa semangat perlawanan terhadap apa-apa yang disampaikan dengan berapi-api oleh para khatib di depan mimbar, dan ditelan mentah-mentah oleh seluruh jama’ah. Pengalaman yang betul-betul saya ingat adalah ketika Shalat Jum’at di Jakarta, tepatnya di belakang kantor Majalah Femina di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Sang khatib dengan begitu percaya diri dan penuh semangat, menyampaikan kepada seluruh jamaah bahwa dalam mempelajari Islam akal haruslah ditanggalkan. AQ dan Sunnah sudah sempurna, dan kita hanya diperintah untuk mengikutnya. Tak perlu kita menggunakan tafsiran-tafsiran akal yang membuat semuanya menjadi serba tak jelas. Perkataan sang khatib benar-benar bagai petir di siang bolong.

Bukan, bukan karena saya tak familiar dengan pemikiran ini. Jelas sudah sangat sering membahasnya. Khutbah dia menjadi ‘petir di siang bolong’ karena itu terjadi langsung di hadapan, di tengah warga ibukota yang dikenal paling megapolitan se-Indonesia. Apalagi kedatangan saya kesana adalah untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan ke negeri seberang. Ingin kuteriak kepada semua orang: ‘Lha dia yang melarang mentafsir pake akal itu terus menangkap isi AQ pake apa? Pake dengkul?’ Lantas, waktu 15 menit dihabiskan untuk meredam amarah akibat pembunuhan pemikiran umat Islam yang terjadi di depan mata.

Saya sangat menunggu-nunggu momen yang sama akan terjadi di Malaysia. Tapi ternyata tidak hari ini. Siang tadi jum’atan berjalan benar-benar sebiasa yang terjadi di Indonesia. Kecuali ada beberapa hal yang unik dan memaksa saya menahan tawa.

Sebelum azan dan khutbah di mulai, saya masuk, shalat sunnah 2 rakaat dan lantas duduk sambil melihat-lihat seluruh bagian masjid. Mulai dari tempat imam shalat, kaligrafi di dinding masjid, orang-orang yang datang dan hendak berjamaah, semuanya. Di sebelah tempat imam shalat, ada tembok yang mengarah ke atas, yang saya duga sebagai semacam tangga darurat untuk imam jikalau terjadi apa-apa. Kaligrafi yang menghiasi dinding bertuliskan nama 4 orang Khulafaur Rasyidin, menjadi identitas mutlak bahwa masjid ini adalah Sunni, bukan Syiah. Jamaah yang bermacam ragam suku bangsa dan tata cara shalat, membuat saya merasa aman bersholat jum’at dengan setelan kaos dan jeans plus kupluk seadanya.

Tak lama kemudian, muazin memberi pertanda Imam akan masuk. Langsung saja saya cari-cari dimana imamnya. Tapi…… koq tidak ada?

Tiba-tiba, tanpa pertanda atau apa, sang Imam muncul dari tembok di atas yang semula saya kira sebagai tangga darurat. Dia ‘mencungul’ begitu saja layaknya pemain sirkus hendak memulai acara panjat tambang di atas ketinggian. Refleks saja, saya langsung hendak ketawa. Tapi ingatan bahwa saya sedang di rumah orang membuat tawa ini berubah menjadi batuk-batuk yang tak jelas sebabnya. Pikir saya, wah, ini dia yang baru! Belum pernah saya jumpai imam berkhutbah di atas tempat yang lebih tinggi dari jamaah ketika berdiri. Padahal imamnya sendiri sudah begitu tinggi menurut ukuran normal. Mungkin supaya lebih eye catching bagi para jamaah.

Selebihnya, semuanya ‘biasa-biasa saja’. Imam berkhutbah dengan membaca teks begitu saja. Menyampaikan bahwa Islam agama yang sempurna, janganlah kita menodainya. Penodaan Islam terjadi setiap hari, oleh orang-orang Islam sendiri. Banyaknya praktek rasuah, korupsi, tindas-menindas antara orang Islam, kemiskinan, kriminalitas, narkoba dan sebagainya. Yah…… tak jauh-jauh lah dari isu-isu khutbah jum’at di Indonesia. Ditutup dengan doa bersama. Dan, satu lagi membuat saya melongo, si Imam menyebut nama sang Sultan Selangor, untuk mendoakan kepada Allah supaya diberikan panjang umur dan pahala kepadanya………

Saya langsung bertanya dalam hati, adakah imam-imam di Indonesia pernah mendoakan SBY di dalam sholat Jum’at supaya diberikan panjang umur dan pahala kepadanya? Sejauh pengalaman saya 5 tahun kepemimpinan SBY, tak ada satupun imam yang demikian. Unik bukan? Inilah konsekwensi feodalisme yang masih dipertahankan di masyarakat Islam modern.

Itu masalah Jum’atan.

Sekarang masalah penarikan dan penyaluran zakat. Pemerintah Kerajaan Selangor melalui Majelis Agama Islam Selangor (MAIS) menyerukan kepada umat Islam untuk membayarkan zakat. Mereka berusaha memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. ‘Peperangan’ ini tampak melalui 2 hal.

Pertama, pemerintah menyediakan beragam fasilitas pembayaran zakat seperti potong gaji, counter pembayaran zakat, telepon, hingga SMS zakat semacam YDSF atau BAZ lain di tanah air. Tujuan yang mereka sebutkan dari program-program ini adalah, supaya tidak ada orang yang bikin banyak alasan untuk tidak membayar zakat.

Kedua, pemerintah mengajukan rancangan undang-undang untuk mendakwa orang-orang yang tidak membayar zakat. Mereka-mereka ini akan diberikan ancaman hukuman yang cukup berat. Tentu saja ini hanya berlaku bagi umat Islam dengan kadar bayaran tiap bulan sejumlah tertentu. Untuk program yang satu ini, saya salut bukan main.

Namun, yang tidak mungkin berbeda dengan Indonesia, penyaluran zakat-zakat dari pemerintah ini adalah kepada 8 golongan sesuai fiqh tradisional: Fakir, Miskin, Amil, Gharim, Fisabilillah, Ibnu Sabil, dsb.

Inilah contoh realitas kongkret ramuan maut antara Fiqh Tradisi ditambah dengan Kekuatan Struktural. Ramuan ini saja sudah bisa menghasilkan negara yang menjelang maju semacam Malaysia. Saya jadi membayangkan, apa jadinya jika Kekuatan Struktural tersebut membawa Fiqh Islam Rasional dan Seimbang sebagaimana konsep yang seharusnya. Pastilah AS dan sejawatnya sudah tercengang-cengang dibuatnya. Di bidang zakat, di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, bisnis dan investasi, teknologi nuklir, dsb.

Hal-hal di atas adalah beberapa ‘realitas kecil’ yang layak menjadi renungan, dan menjadi tenaga pendorong di dalam semangat membangun Islam, menjadi umat yang terbaik dan benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin……