Tak kenal maka tak sayang. Itu pepatah yang telah lama kita kenal. Yang (mungkin) sering terlewatkan adalah, untuk menjadi benar-benar kenal tak bisa hanya sejam dua jam. Betul, inilah kesan yang muncul di hari-hari berikutnya di tanah melayu ini. Beberapa pengalaman empiris menjadi pelajaran berharga untuk membuka mata atas realitas sesungguhnya kehidupan di kota ini.

Pertama, tentang orang Indonesia. Hampir setiap hari saya jalan-jalan berkeliling kota, mengunjungi berbagai tempat dan institusi, selalu saja bertemu dengan teman-teman dari kampung halaman. Mau naik bis, dibantu dengan seorang bapak dari Flores. Mendaftar studi, diterima oleh staf dari Pekanbaru. Tanya kos-kosan pada pekerja bangunan di perumahan, ketemu orang dari Jakarta. Kenalan dengan seorang gadis di bus kota, rupanya keturunan orang Makassar. Bahkan tanya alamat jalan di tengah rimba raya kota, eh, ketemu pula sama orang Tuban. Saya jadi mikir, ini koq seperti di Indonesia sendiri saja ya. Dimana saja berada selalu ketemu orang Indonesia.

Tapi juga selalu ada keuntungannya bersama mereka. Seakan-akan ada tali pengikat yang tak nampak dari tiap-tiap orang Indonesia yang berjumpa. Mereka akan dengan senang hati dan ramah tamah membantu apapun yang kita tanyakan. Tentu saja asalkan tidak menodong untuk minta uang. Dan rupanya, ‘ikatan kebangsaan’ ini benar-benar menjiwai di segala aktivitas dan interaksi sosial.

Baru tadi petang saya mengalami kejadian yang menyesakkan dada. Saat itu saya dan beberapa orang sedang menunggu bis untuk pulang, di halte depan The Mines Shopping Centre. Di halte itu juga ada tiga orang pemuda (yang bahkan dari jauh pun bisa dicium aroma kejahatan pada diri mereka) yang sedang mabuk. Tak tahu darimana asalnya mereka. Tiba-tiba, mereka menghampiri salah seorang bujang dari Myanmar. Mereka meminta uang. Si Myanmar tak bisa kasih uang, dihajarlah ia beramai-ramai. Yang satu memegangi tangan, yang satu menendang tulang belakang, yang satu lagi meninju mata dan tempurung otaknya dengan sekuat tenaga. Segera saja semua orang menghindar dari pertikaian itu. Semuanya shock dan saya langsung nyebut. 5 menit tak berhenti, semua orang masih saja mematung berdiri. Tak tahan melihatnya, saya berlari mencari petugas security. Tentu tak mungkin saya bergaya a la Wolverine dan mencakar mereka satu persatu. Bisa-bisa saya jadi mangsa mereka berikutnya.

Tengok sana-sini, tak ada satu pun petugas security yang berjaga di pintu masuk Mall. Masya Allah…… Akhirnya dengan tersengal-sengal, saya kembali ke TKP. Pertikaian sudah berhenti, para kriminal itu rupanya sudah pergi. Mulailah saya tanya ke salah seorang Abang yang ada di sana (yang saya tebak pastilah orang Indonesia). Dia bilang, itu tadi minta uang tak diberi. Lantas ia tanya kepada saya: ‘Tadi lari kemana?’ Ya saya jawab, ‘mencari petugas security, Bang’. Dia bilang pada saya, ‘Biarlah itu urusan orang. Kalau adik ikut-ikut, bisa-bisa mereka ingat adik dan nanti adik bisa dicari perkara kalau mereka jumpai lagi disini.’ Saya langsung tertegun. Dia menambahkan, ‘Andai dia orang Indonesia, pasti sudah saya bantu dari tadi. Tapi saya tahu dia bukan orang Indon. Jadi ya saya tak mau berurusan macam-macam.’

…………

Tak cukup itu, seorang pemuda yang juga duduk disitu dari tadi dan seorang ibu-ibu paruh baya yang pulang dari kerja, menambahkan dalam pokok pikiran yang sama, “Iya Bang, andai dia orang Melayu, pastilah tak mungkiin saya berdiam di sini. Tapi saya tahu dia bukan orang Melayu. Jadi ya diam saja lah.’

Dasar Nasionalis! Ashabiyah Kebangsaan! Pekik saya dalam hati. Ini kan masalah kejahatan di depan mata. Ada orang tak bersalah dianiaya! Kenapa pakai hitungan ras dan suku bangsa? Astaghfirullah…… Sebegitunyakah ikatan kebangsaan menjadi dasar perhitungan? Saya berpikir, andaikan saya yang menjadi korban tadi, pastilah saya berharap orang-orang di sekitar saya akan menolong, atau minimal, mencarikan pertolongan buat saya. Tapi bagi mereka, kejadian itu seolah hal sesepele buang ingus di tengah jalan. Mind your own business, kata orang-orang liberalis Amerika. Betul-betul saya melihat wajah lain dari kemegahan negara yang menyatakan diri sebagai Islam sebagai agama resminya.

Tapi itu baru satu pengalaman.

Mengingat Amerika, jadi membuat pula teringat satu hari sebelumnya, ketika berdesak-desakan di dalam kereta api hendak pulang dari KL ke Serdang. Ketika masuk ke dalam kereta, ada seorang gadis bule masuk langsung persis di hadapan saya. Dalam hati iseng saya, berniat menawarkan kajian Islam kepadanya. Siapa tahu bisa mualaf dan kita tahu selanjutnya apa  :p  Tapi rupanya dia masuk bersama dengan boyfriend-nya. Kereta semakin sesak, dan mereka berdua semakin mendesak.

Tak tahu mungkin insting mereka dalam memanfaatkan suasana sudah terlatih demikian baiknya, terjadilah adegan yang benar-benar menusuk mata dan bikin hati meradang marah. Mungkin mereka merasa bahwa ini adalah rumah mereka sendiri, mereka berangkulan dan sekali berciuman dengan begitu mesranya. Celakanya, ITU TERJADI DI TEPAT DI HADAPAN SAYA!!!

Saya tengok orang-orang sekitar, semuanya baik-baik saja. Hanya seorang wanita berjilbab yang lantas berjalan menyeruak masuk lebih dalam, menghindar. Saat itu langsung muncul niat dalam hati, andaikan mereka melakukan itu sekali lagi, SEKALI LAGI SAJA, sudah saya siapkan kata-kata untuk mereka: EXCUSE ME PLEASE, CAN YOU STOP KISSING EACH OTHER? THIS IS NOT YOUR HOMETOWN!!

Saya tunggu aksi mereka dengan mulut siap bersumpah serapah. Tapi mereka lantas ngobrol tak tahu artinya. Dan dari bahasa mereka, saya yakin sekali bahwa mereka ini adalah orang-orang Jerman. Dasar mantan NAZI tak tahu diri. Mungkin mereka tidak pernah kenal adagium: Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Ingin rasanya membawa mereka ke Indonesia, mendudukkan mereka di bangku sekolah dasar, dan meminta guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkan kepada mereka Etika Dasar Terapan dalam pergaulan sosial. (Tak tahu lah, sekolah mana yang menyediakan guru Bahasa Indonesia macam ini……)

Dari beberapa pengalaman semacam dua di atas, saya akhirnya menemukan beberapa bukti kongkrit bahwa, bolehlah dinyatakan ini masyarakat lebih maju atau ‘lebih islami’, tapi agaknya itu dalam hal permukaan saja. Substansi pemikiran yang dikembangkan, sistem sosial yang dibangun dan budaya pergaulan yang hidup dan dijunjung, agaknya tak jauh-jauh berbeda dengan masyarakat yang semula saya berada, Indonesia.

Mungkin benar bahwa ini hanyalah case-case yang sedikit. Mungkin benar bahwa tidak bisa langsung digeneralisasi. Tapi bagi saya, ini sudah bisa menjadi indikasi. Bahkan, bisa pula ini dibaca sebagai puncak gunung es. Dan saya yakin, semakin kita hidup dan menyelam kedalamnya, maka akan semakin menjadi bukti bahwa kebanggaan akan kemajuan peradaban tak searah dengan substansi nilai moral yang ditegakkan dalam penerapan.

Mengingat-ingat hal ini, jadi serasa di negeri sendiri……