Get Down on It! Get Down on It! Get Down on It! Get Down on It!

Suara Alarm berbunyi jam 6 pagi. Sambil mengusap belek mata, ku keluar dari kamar dan melihat ke jendela. Jam 6 pagi? Bukannya ini jam 4 pagi? Masih gelap…… Kulanjutkan tidur 1 jam lagi. Alarm kembali berbunyi, jam 7 pagi. Kulihat jalanan luar sekali lagi. Di 65, ini masih jam 5 pagi! Berkali-kali tak percaya mata ini. Biarlah. Shalat subuh dulu lah. Sambil bersiap-siap aktivitas pagi hari. Setelah shalat, jarum jam menunjuk angka 8. Aku keluar motel, keliling sebentar. Di Surabaya, ini suasana jam 6 pagi. Matahari belum juga terbit. Keheranan pertama di pagi buta. Baru sejam kemudian setelah mandi, berbaju rapi dan siap pergi, matahari nongol seperti baru jam 7 pagi.

Dengan petunjuk sms seadanya dari seorang kenalan di Kuala Terengganu, kucari Jalan Balakong. Dia bilang, Jalan Balakong dekat dari tempat motel ku menginap. Karena katanya dekat, kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Hanya berbekalkan nomor HP dan nama orang yang hendak dituju, berangkatlah dari motel.

Setelah berjalan beberapa saat, dan agar lebih disegani, kuputuskan bertanya pada seseorang dalam bahasa Inggris: Excuse me Sir, can you show me please, where is the Balakong Street? Si Bapak menjawab: Apa? Apa? Tak tahu saya. 

Dieng………

Tak berhenti begitu saja. Biasa lah, dimana-mana pastilah ada orang yang tak kenal kota tempat ia tinggal. Kali ini kutanya seorang wanita muda yang tampaknya hendak pergi kerja. ‘Excuse me Miss, can you show me where is the Balakong Street?’ Dia menjawab: ‘Don’t know, don’t know’

Dieng lagi……

Apakah sebegitunya tidak kenal dengan kota tempat mereka tinggal? Padahal jalan ini kan ‘dekat’ dari sini. Harapan berikutnya, seorang bapak muda. Kuajukan pertanyaan yang sama, dan, Alhamdulillah……. dia tunjukkan aku harus naik bis apa dan turun di halte mana.

Sistem bis disini berbeda sekali dengan di kampung halamanku. Waktu naik, sudah dihadang dengan kotak tempat menaruh uang. Jauh atau dekat, harus masukkan uang kertas RM1, dan kemudian pak sopir memberi tiket print-out pertanda telah bayar tunai. Tapi ini bukan berarti kita bisa berhutang. Ternyata tiket itu bisa berlaku untuk 1x pulang-pergi. Info terakhir ini baru aku ketahui keesokan hari. Sekarang, kembali ke proses pencarian kos-kosan.

Rupanya ada perbedaan pengertian antara ‘dekat’ versi sms dari kenalan semalam, dengan ‘dekat’ yang riil dialami. Ternyata ‘dekat’ yang dimaksud adalah naik bis dari Basuki Rahmat menuju Wonokromo. Benar-benar ‘dekat’. Setelah turun dari Bis, sepenuhnya insting mengambil alih. Melalui proses pencarian yang tidak lama, akhirnya kutemukan juga kompleks Lorong Taming Sari. Di Surabaya, saya jadi teringat dengan daerah Pucang dekat pasar. Gang-gang rumah yang dekat dengan pasar dan pertokoan.

Tak lama kemudian, dapatlah tempat kos di salah satu rumah orang Indonesia. Yang pasti, orang ini bukanlah orang yang sesuai dengan petunjuk dari kenalan sms tadi. Ini benar-benar orang yang lain. Tapi, tak apalah. Yang penting dapat kos-kosan. Kata si Ibu, yang rupanya orang Lumajang, daerah sini banyak orang Indonesianya. Dia sendiri sudah 20 tahun tinggal di Malaysia. Setelah ngobrol ngalor ngidul dalam bahasa Jawa, akhirnya kita sepakat untuk berkongsi rumah. Dengan bayaran RM125/bulan, aku resmi menjadi penghuni baru rumah ini.

Semuanya benar-benar baru. Zona waktu, tipe makanan, jalur transportasi, dsb. Yang juga menyenangkan, aku bersentuhan dengan ‘bahasa-bahasa baru’. Simak kata-kata di bawah ini:

1. Kedai gunting rambut (Pangkas rambut)

2. Kedai internet (warnet)

3. Kedai elektrik (Toko barang elektronik)

4. Tambang bas (Harga karcis bis)

5. Medan Kereta (Tempat Parkir Mobil)

6. Medan Selera (Foodcourt)

7. Pusat Beli Belah (Shopping Centre)

8. Rumah Tumpangan (Hotel)

9. Stesen Minyak (Pom Bensin)

10. dan lain-lain yang serupa dengan itu