Alhamdulillah……

Itulah kata pertama yang terucap di malam pertama di Malaysia. Setelah melalui perjalanan panjang nan melelahkan (dari jam 13.00 sampai jam 22.00) akhirnya sampai juga di negeri orang. Perjalanan yang direncanakan berakhir pukul 7 malam, molor 5 jam karena banyak hal yang tak terprediksikan. However, above those all, here I am, in the middle of nowhere.

Keterlambatan di mulai dari keberangkatan pesawat. Seharusnya take off jam 12.25, ternyata baru benar-benar take off jam 13.15. Mungkin ini resiko menggunakan armada penerbangan tipe LCC (Low Cost Carrier, alias Penerbangan dengan Harga Murah). Meski demikian, tak ada perasaan-perasaan aneh meskipun ini adalah pengalaman terbang yang pertama. Tapi ‘perasaan netral’ ini langsung sirna 15 menit kemudian ketika pesawat benar-benar lepas landas.

Pertama kali yang terucap adalah: Subhanallah… Benda bertubuh besi segede gerbong kereta api ini bisa terbang dengan begitu ringannya. Apalagi ketika menjauh dari daratan dan mulai memasuki kumpulan awan-awan putih. Subhanallah… Maha Suci Allah… Tak lepas-lepas mulut ini memuja kebesaran Allah. Awan yang dari bawah terlihat biasa saja, benar-benar terasa megah dipandang dari udara. Padahal, secara teori, itu hanyalah kumpulan uap air yang terkondensasi di ketinggian tertentu (semoga benar ‘kutipan’ teori ini, :p).

Tapi, perasaan takjub ini langsung berubah seketika menjadi perasaan mual dan sakit hati. Tak lain karena pesawat digoyang kesana kemari oleh Pak Pilot yang sedang bekerja. Digoyang ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, ke depan (????). Yang pasti, mual sekali. Lebih mual dari naik metro mini yang disetir oleh preman Tanah Abang. Yang bikin sakit hati, perasaan mual ini menghapus pengalaman ketakjuban lima menit yang lalu!!! Dari sini kuhayati pelajaran berharga: Inilah kebahagiaan dunia, cepat datang dan cepat pergi.

Yang lebih bikin sakit hati, perut ini terasa mau muntah, dan hampir saja benar-benar muntah. Apalagi tadi belum siap-siap tas kresek kecil buat penadah muntahan (seperti biasa naik bis kota). Di atas negeri di awan ku hanya bisa berdoa: Ya Allah… Berikanlah kekuatan kepada hambamu ini. Janganlah dibuat malu sebelum tiba di negeri orang……

Untuk meminimalisir rasa mual akhirnya ku pesan satu mi instan seduh dan sebotol tanggung air mineral. Kemalangan kedua menimpa orang udik yang tak tahu harga: 1 Mie Instan seduh + 1 air mineral = Rp. 30.000,-!!! Kembali hati ini rasa tak rela, karena harga itu 3x lipat dari harga beli di Alfamart. Pelajaran berharga kedua segera melintas di kepala: Inilah kebahagiaan dunia, bahkan belum dapat dirasa sebelum datangnya derita.

Setelah menindak habis mi instan dan air mineral, kurebahkan kedua kaki di atas kursi. Seolah-olah sedang naik metro mini. Pandangan pramugari dan pramugara tak berarti sama sekali. Biarlah, salah siapa membolak-balik pesawat orang. Dan setelah melalui penerbangan selama 3 jam, sampailah juga di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Diiringi ucapan ‘Terima Kaseh’ dari pramugara-pramugari yang asli Malaysia, kulangkahkan kaki ke negeri Malay untuk pertama kali. Eng… ing… eng… Ternyata rasanya biasa saja.

Kulanjutkan perjalanan ke Kaunter Visa on Arrival, tanya informasi, tukar uang rupiah dengan uang ringgit, dan lanjut lagi ke Kaunter Imigresen. Bule-bule dari berbagai negeri hilir mudik kesana kemari. Rupanya ini musim liburan. Atau mereka yang tak punya pekerjaan? Atau liburan itulah pekerjaan mereka? Tak tahulah. Yang penting kusiapkan diri menuju interview yang paling menentukan.

Satu persatu barisan maju ke depan. Kulihat 5 orang Indonesia gagal melintas karena tak dapat ijin. Bertambah kuat tekad hati untuk bisa berlalu mulus dari pintu imigrasi. Setelah melalui interview yang singkat, dengan beberapa sikap psikologis yang cukup baik, loloslah jiwa dan raga dari pemeriksaan pejabat Imigresen. Alhamdulillah…… Langsung saja kucari baggage claim. Ambil tas dan koper, cabut segera dari bandara.

Masalah selanjutnya muncul kembali. Dimanakah gerangan stasiun kereta api? Padahal hanya itulah satu-satunya jalur transportasi yang kutahu. Kutanya petugas keamanan, dia tak paham yang kuucapkan. Dalam bahasa Inggris kubertanya, dia beri petunjuk yang salah sebagai jawaban. Aku tahu jawabannya salah setelah tempat yang dia beri tahu bukanlah Stasiun Kereta Api, melainkan Halte Bis!!! Allahu Allah……

Daripada semakin malam dan harus terperangkap di bandara, nekat kutanya kondektur Bas RapidKL. Rupanya ini bis menuju arah yang sama dengan tujuan semula: KL Sentral. Meski jarak tempuh menjadi lebih jauh, dan memakan waktu yang lebih lama dibanding Kereta Api, terpaksa aku ikuti saja. Kalau naik kereta api hanya 40 menit saja, naik bas menjadi 120 menit. Walhasil, sampai di KL Sentral jam sudah menunjuk 7.30 malam.

Pertama kali masuk, takjub kembali rasa hati ini. Takjub, sekaligus bingung. Ini mall atau stasiun kereta? Stasiun kereta atau nyambi mall? Banyak toko-toko baju, counter Nokia, mini market, McD, KFC, butik, counter AirAsia, dll. Keliling sebentar, cari kedai telekomunikasi. Dah dapat pulsa, cari makan. Dah dapat makan, cari informasi kereta menuju Serdang. Alhamdulillah, kereta tak lama kemudian siap berangkat. Yang menakjubkan, hampir semua sistem pertiketan, pembagian peron dan jalur kereta, berbeda dengan sistem di kampung halaman. Memang lebih modern dan efisien. Dan yang paling penting, TAK ADA ASAP ROKOK BARANG SECUIL PUN……

Setelah kereta berjalan 30 menit, sampai juga di Stesen Serdang. Bingung. Sendirian tengok kanan-tengok kiri. Tak ada orang untuk bertanya karena Stesen ini telah sepi (jam menujukkan pukul 9.30). Duduk sejenak, telepon ke calon Bapak Kos, dan terdengar suara menyahut: Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Tak percaya telinga ini mendengar, kutelepon sekali lagi. Nona yang sama menyahut dengan ujaran yang sama. Sambil berpikir, terpaksa berjalan menyeberang jalan raya dari udara (lewat jembatan penyeberangan, maksudnya). Sesampai di sana, ada banyak bis yang tak tahu menuju arah mana. Ada pula taksi tapi aku pun tak tahu harus jalan kemana. Bapak kos belum kasih pula alamat rumahnya. Tengok kanan tengok kiri, terpaksalah menginap di satu-satunya penginapan yang ada.

Penginapan ini SUN INNS namanya, RM 85 harganya. Ingin hati mencari yang lain yang lebih murah. Tapi yang ada hanya hotel bintang lima di kompleks sebelah. Terpaksa, malam ini menginap dahulu di motel ini. Di kamar, kucek lagi semua barang bawaan. Alhamdulillah… Semua lengkap tiada kurang suatu apa. Segera setelah mandi dan makan mi instan seduh lagi, kususun rencana kerja untuk esok hari. Target utama: DAPAT KOS-KOSAN!!!