Tidak ada diri makhluq yang sempurna. Tidak para rasul tidak pula malaikat.

Adam dan Hawa pernah berdosa. Musa pernah lepas kendali atas emosi diri. Yunus pernah berputus asa atas keadaan umatnya. Bahkan Muhammad pernah bersedih hati secara berlebih karena ditinggal dua orang yang terkasih. Tidak, bahkan manusia setingkat rasul pun tidak ada yang sempurna.

Siapa bilang malaikat sempurna? Ketiadaan akal dan perasaan membuat mereka tak mampu merasakan nikmatnya surga. Sekali dicipta merunduk, sampai akhir semestapun ia akan tetap merunduk. Bagi manusia yang penuh dosa, tentu saja ia sosok yang sempurna. Tapi, bukankah manusia diciptakan dengan potensi menjadi makhluq yang jauh lebih mulia?

Benar, tak ada satupun makhluq yang sempurna.

Tapi, ingatkah kita dengan Q.S al-Hujurat 13?

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka dicipta dalam berupa suku dan bangsa, sebagai sebuah sunatullah keragaman dan perpencaran kehidupan manusia. Semakin manusia berkembang populasinya, maka ia akan memisahkan diri, mencari tempat dan potensi kehidupan lain.

Ingatkah kisah Qabil yang membawa lari saudara putrinya setelah membunuh Habil? Di situlah bermula perpencaran populasi manusia. Perlahan tapi pasti, melalui serangkaian adaptasi terhadap lingkungan dan berbagai situasi, simsalabim, jadilah berupa-rupa suku dan bangsa. Semuanya berbeda satu dengan yang selainnya.

Tapi, rupanya perbedaan ini, keterbatasan ini, kecenderungan untuk melakukan konflik dan tindak-tindak kekeliruan ini seketika dijawab oleh Allah dalam ayat yang sama. Bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah ORANG YANG PALING TAQWA. Mengapa menggunakan kata PALING TAQWA? Apakah benar tidak ada BATAS PUCUK dari sebuah TAQWA?

Kita andaikan kata PALING PANDAI. Kata PALING adalah kata perbandingan, memperbandingkan antara satu subyek dengan subyek-subyek yang lainnya. Artinya, tidak ada batas patok tertentu yang disebut SANGAT PANDAI. Dengan demikian membuka peluang antar siswa untuk berkompetisi menjadi yang PALING PANDAI.

Bagaimana dengan manusia yang tidak sempurna dan pasti berbuat salah? Di sinilah letak makna PALING TAQWA bekerja.

Digunakan kata PALING TAQWA menunjukkan tidak ada patok tertentu, melainkan memotivasi umat Islam untuk berebut menjadi yang nomer satu. Mereka berkecenderungan untuk salah, tepat sekali. Tapi justru mereka yang paling mulia adalah yang PALING MAMPU MENGENDALIKAN DIRI DARI BERBUAT KELIRU SECARA SENGAJA.

Siapa yang PALING BISA MENGENDALIKAN DIRI, untuk melakukan yang benar meski pahit dan terkadang mengorbankan perasaan, dialah yang disebut sebagai PALING TAQWA.

Orang yang bagaimana yang berTAQWA ini? Dalam Q.S 2: 3-5 yaitu mereka yang beriman pada yang ghaib (Allah, Kitab, Malaikat, Rasul yang telah meninggal) yang bahkan mereka tidak menjumpai sendiri. Keimanan yang didasarkan kepada rasionalitas bukan empiris menunggu azab ataupun ajal. Mereka yang TAHU SECARA RASIONAL tanpa menunggu empiris bencana-bencana dari yang mereka lakukan. Jelas keimanan yang tidak mudah.

Dalam Q.S 6:32 orang yang taqwa yaitu orang yang menjalani kehidupan dunia dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar seperti mendapatkan mainan baru. Sungguh-sungguh, habis-habisan, dengan segala apa yang dipunya. Belajar dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan fasilitas dari harta umat dengan sungguh-sungguh, menapak karir masa depan dengan sungguh-sungguh. Inilah orang yang TAQWA.

Dalam Q.S 8:27-29 orang TAQWA adalah mereka yang tidak mengkhianati Allah & Rasul, yang mampu mendudukkan anak dan istri sebagai COBAAN. Kata COBAAN, bukan PEMILIKAN, atau HARTA WARISAN. Pernahkah ikut uji coba SIM?

Jika mengikut rambu dan menjalankan aturan tanpa dikurangi atau dilebihi, maka luluslah kita dari sang penguji. Tapi jika sebaliknya, maka jangan harap akan mendapat hasil dari seluruh pengorbanan kita. Istri dan Anak sebagai COBAAN. Tentu bisa membayangkan maksudnya, bukan? Jika didudukkan porsi & kedudukannya secara benar, luluslah kita dari COBAAN perjuangan. Tapi jika terlena jiwa kita, tergoda oleh bujuk rayu mereka, tanpa kita mampu MENGENDALIKAN DIRI batas mana yang benar dan batas mana yang salah, maka jangan harap pengorbanan kita mendapatkan balasan tempat di surga.

Jadi, teman-teman, meskipun tidak ada manusia yang sempurna, maka hendaklah kita BERKOMPETISI UNTUK MENJADI YANG PALING SEMPURNA DALAM BERTAQWA. Tidak ada ujung patokan insan sempurna itu yang seperti apa. Semuanya persoalan PERBANDINGAN, siapa yang PALING BERTAQWA, SEKEDAR BERTAQWA atau MENGKHIANATI TAQWA.

Memang tidak ada yang sempurna, dan memang semua manusia berkecenderungan salah. Tapi mereka yang BERUSAHA SEKUAT TENAGA MENGENDALIKAN DIRI DARI PERBUATAN SALAH, BERUSAHA SEKUAT TENAGA MENGORBANKAN DIRI KEPADA TUHAN MEREKA, inilah orang-orang YANG PALING MULIA DI SISI ALLAH.

Itulah mengapa kita mengenal Ulul Azmi, mengenal Ibrahim sebagai bapak para nabi, dan mengenal Muhammad sebagai pembawa terakhir risalah Ilahi. Ya, merekalah orang-orang yang utama. Di track merekalah kita seharusnya berjalan, untuk berkompetisi menjadi YANG PALING BERTAQWA.

Pesimiskah?

Coba bayangkan bagaimana Rasul dan orang-orang besar itu di kala usia mereka menapak angka 20an. Apakah mereka sudah sebesar nama mereka sekarang? Jawabannya sejelas gajah di pelupuk mata: BELUM! Mereka besar karena USAHA. Mereka mulia karena PENGORBANAN. Semuanya masalah RASIONALITAS kita.

Hanya ada tiga track dalam kompetisi ini: Track PALING TAQWA, Track SEKEDAR TAQWA, dan Track MENJAUH DARI TAQWA. Pertanyaannya, di track manakah kadar usaha kita selama ini?

Mari Berkompetisi dalam Taqwa!