Kedewasaan itu langka. Kata sebuah iklan, menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Dan tekanan serta pengalaman kekecewaan akan menjadi sebuah bekal pembelajaran.

Kita tidak akan menjadi lebih dewasa ketika kita memenuhi apapun yang diinginkan orang-orang di sekitar kita. Teman kita meminta nasihat-nasihat keras, tapi tidak menjamin kita akan menjadi lebih dewasa ketika kita berusaha untuk memberi apa yang dia minta. Teman kita meminta kita jujur apa adanya, tetap tidak akan menjamin kita akan menjadi lebih bijaksana ketika kita berusaha jujur dan apa adanya tentang dirinya.

Maka menjadi dewasa itu adalah hasil pelatihan. Dialektika batin antara akal dan perasaan.

Kedewasaan itu mahal. Tidak jarang kita harus membayarnya dengan berjuta peluang dan kesempatan. Peluang untuk berkarya maksimal. Atau kesempatan untuk menjadi orang besar. Ketika kita sudah benar-benar dewasa di penghujung usia yang sudah tua, mungkin kita akan baru menyadari betapa kita telah menyia-nyiakan seluruh kesempatan yang dahulu pernah terbuka.

Komitmen itu perlu. Karena ia yang menjadi pegangan ketika jatuh. Tapi sekali komitmen itu terucap, maka ranjau darat akan terbentang sepanjang mata melihat. Dan disanalah kedewasaan sesungguhnya mendapatkan tantangan.

Tidak ada motif untuk membunuh karakter apapun dan siapapun. Tidak pula hendak mengumbar aib seenak udel sendiri. Karena tidak ada yang lebih indah dari pahitnya diskusi & saling mengingatkan antar saudara, meski rasanya sakit tak terkira. Bisakah kita bayangkan? Rasa perih yang indah tak terperi.

Dialektika ini menjadikan semuanya semakin menantang. Tak pernah sebelumnya ada pengalaman demikian dalam seluruh kamus perjuangan. Apalagi tidak banyak waktu yang tersisa di hadapan. Maka motivasi diri untuk meninggalkan sedikit bekasan perubahan ini harus rela menahan dahaganya. Karena terkadang tidak semua kenyataan seindah yang diharapkan.

Betapa mahal sebuah proses pembelajaran…