Ada beberapa poin penting yang perlu dicermati dalam buletin berjudul ‘Perjuanganku’:

  1. Selama ini yang kulakukan hanya belajar, belajar dan belajar. Tapi aplikasi dipertanyakan.

  2. Saya takut dan hanya bisa diam.

  3. Saya benar2 butuh orang2 yang keras mengingatkan saya, terus mengevaluasi saya, dan terus membimbing saya. Karena tak ubahnya masih seperti anak TK.

  4. Belum ada kemantapan kepribadian. Saya ingin berubah.. I’m just a kid, in a big “cup”, with a big vision, idealism, and commitment to change the “round blue globe”.

Dan inilah pandangan saya atas buletin tersebut.

Pertama, mengaku terus belajar tapi aplikasi masih dipertanyakan. Menurut saya, maka layak dipertanyakan juga, apakah benar selama ini benar-benar telah belajar? Atau itu sebatas lip synch semata karena ternyata, diakui dalam tulisan-tulisan berikutnya, masih merasa mengulangi masalah-masalah yang sama. Bukankah hakekat belajar adalah adanya Perubahan Sikap & Perilaku? Mengapa ada ungkapan ‘hanya keledai yang terjatuh pada lubang yang sama dua kali’? Karena keledai tidak dapat belajar, dan oleh karenanya tidak ada perubahan sikap dan perilaku pada dirinya. Maka, pertanyakan dahulu: Apakah benar selama ini telah benar-benar belajar? Saya kira koq tidak begitu.

Kedua, takut dan hanya bisa diam, tidak bisa mengambil keputusan. Nah, bukankah sudah jelas bahwa penulis sesungguhnya telah mengambil keputusan: KEPUTUSAN UNTUK DIAM DAN TIDAK MELAWAN DORONGAN-DORONGAN DARI DIRINYA ATAU SEKITARNYA. Sebenarnya, penulis tidak benar-benar diam di tempat. Anda telah mengambil satu atau sepuluh langkah. Hanya saja bukan langkah ke depan, melainkan mundur ke belakang. Sementara teman-teman yang lain telah berlari 1000 meter di hadapan. Maka pahamilah, sebenarnya anda selama ini telah MENENTUKAN SIKAP, yakni MENIKMATI KEADAAN ANDA SELAMA INI.

Ketiga, butuh orang yang keras untuk mengevaluasi dan membimbing. Benar bahwa penulis memang butuh. Pertanyaannya, benarkah selama ini tidak ada orang yang demikian di sekitarnya? Atau terlalu buta untuk menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya juga selama ini telah berusaha membimbingnya? Mulai dari cara kesadaran, sindiran, storming, hingga penghayatan. Hanya penulis dan Tuhan yang dapat menjawabnya.

Keempat, belum ada kemantapan kepribadian, and I’m just a kid in the huge cup of the world. Pertanyaan ini bukannya sudah muncul sejak 4 bulan yang lalu? Kenapa hingga sekarang masih muncul di benak penulis? Kalau saya boleh berempati dan sekedar mengeksplisitkan apa yang ada dalam benak penulis, I’M JUST A KID adalah stempel legalisir paling ampuh untuk setiap kegagalan dalam belajar, lagi dan lagi. Bukankah memang seorang bocah wajar jika melakukan kesalahan? Dan bukankah memang wajar tetap melakukan kesalahan meski orang tua, kakak dan kerabatnya telah mengingatkan tiap kekeliruan yang dilakukan? Benar, jawabannya adalah SANGAT WAJAR! Cause I’M JUST A KID!

Tapi sayangnya, argometer dosa-pahala penulis telah berjalan seiring dengan bertambahnya usia. Mungkin memang ada kesempatan dapat diskon jika kita menunjukkan voucher berlabelkan I’M JUST A KID. Atau saya yang terlalu berpositif thinking bahwa penulis selama ini sudah AKIL BALIGH.

Bagi sebagian orang, bersembunyi dibalik ‘POTRET KEPRIBADIAN DIRI & LATAR BELAKANG MASA LALU’ adalah cara ampuh untuk menenangkan gejolak hati nurani dan akal pikiran ketika diri menyadari telah melakukan suatu kekeliruan. Maka, semakin cara ini dipelihara, akan semakin lestari ia sebagai moralitas diri ke depannya.

Terakhir, mungkin saya yang terlalu koleris atau perfeksionis. Sehingga menuntut orang lain untuk bisa mengikuti ‘standard saya’ yang ‘terlalu tinggi’. Saya sarankan, jika penulis menganggap itu adalah ‘standard yang saya subyek penetapnya’, maka tidak perlu diikuti.

Tapi saya tidak tahu, apakah ‘standard optimalisasi perjuangan diri’ yang ditetapkan oleh Allah dan dicontohkan Rasulullah benar-benar jauh berbeda dengan standard di atas?

Mohon maaf jika dirasa terlalu keras.