Dalam beberapa waktu terakhir, saya cukup aktif menulis bullbo. Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun merasa perlu untuk menulis. Tapi dengan adanya ‘kondisi-kondisi tertentu’ yang datang di saat yang pas, kecenderungan sejak kecil (suka menulis sajak/prosa) muncul kembali. Hasilnya adalah bullbo-bullbo ga jelas yang selama ini beredar luas.

Namun setelah berjalan kurang lebih dua bulan masa karir saya di dunia per-bullbo-an, saya yakin terhadap satu hal: SAYA TIDAK BERBAKAT UNTUK MENJADI PENULIS, APALAGI PENULIS SAJAK/PROSA.

Kesimpulan ini diambil setelah dari beredarnya bullbo-bullbo kreasi saya, ternyata memunculkan banyak penafsiran yang berbeda-beda antara satu pembaca dengan pembaca yang lain. Semalam, bertambah lagi ‘korban’ misunderstanding akibat salah satu bullbo yang saya bikin.

Hal ini menjadi masalah karena ternyata akhirnya persoalan misunderstanding berimplikasi kepada hubungan personal & sosial yang selama ini terjalin. Semua yang mulanya baik-baik saja menjadi muncul curiga karenanya.

Padahal dalam setiap produksi teks pasti terikat oleh konteks. Dalam kasus prosa/sajak yang saya bikin, konteks itu lebih banyaknya bersifat pribadi. Celakanya, ‘konteks pribadi’ ini yang sangat jarang tertangkap, digantikan oleh penafsiran menurut penangkapan masing-masing.

Tentu saja itu semua bukan salah pembaca, karena pembaca hanya penikmat. Melainkan salah penulis karena tak menyertakan konteks yang dialami dalam setiap tulisan.

Jadi, teman-teman, kalau bullbo saya dianggap ‘menyerang’ salah satu dari kalian, percayalah, itu tidak benar. Untuk menyerang kalian semua, saya tinggal buka mulut langsung di hadapan anda, gratis tanpa dipungut biaya. :p Karena memang itu sudah kebiasaan saya.

Terakhir, dengan evaluasi ini, saya memutuskan untuk mengakhiri karir bullbo saya sampai di sini saja.

Bullbo kali ini saya buat dengan lugas, tanpa berusaha mensyair-syairkan. Harapannya, bisa langsung tertangkap tanpa ada makna ganda.

Thanks a lot, take care…