(Sebuah Respon terhadap Opini Ikang Fawzi)

Menjelang pilihan raya 2009, panggung politik RI menyuguhkan parade teatrikal sekelas opera sabun. Sejumlah artis (yang rata-rata berlatar belakang sebagai aktris dan aktor), berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari berbagai parpol. Sebagai ilustrasi, dari Partai Amanat Nasional (PAN) saja tidak kurang dari 18 pesohor mengajukan diri sebagai Calon Anggota Dewan yang mulia[1]. Belum lagi dari PPP, PDIP, dsb. Sebetulnya fenomena yang sama pernah terjadi pada musim pemilu sebelum-sebelumnya seperti misalnya Angelina Sondakh, Adjie Massaid, Marissa Haque, dsb. Hanya saja saat itu masih belum begitu besar jumlahnya. Namun (mungkin) karena melihat rekan-rekan seprofesi mereka berhasil menengguk ‘kesuksesan’ dalam ‘job-joban’ baru tersebut, maka para selebritis itu pun kemudian bertingkah macam burung bulbul di pergantian antar musim. Migrasi berjamaah.

Menghadapi fenomena ini, serentak ahli politik, akademisi dan kalangan media angkat suara pertanda keraguan (dan banyak pula yang mencapai taraf skeptisisme) terhadap kemampuan sang ahli ekspresi dalam menjalankan fungsi legislasi. Namun, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Dunia perfilman benar-benar mendidik mereka dengan baik sehingga salah satu dari mereka, Ikang Fawzi tepatnya, mengungkapkan sebuah pembenaran yang tak relevan: Bahwa Artis adalah Komunikator yang Baik[2]. Mengapa disebut ‘pembenaran yang tak relevan’? Benarkah Artis menjadi komunikator yang baik (dalam proses politik yang teramat pelik)? Benarkah ‘Komunikator yang Baik’ itu yang dibutuhkan oleh rakyat? Inilah yang hendak ditelanjangi dalam artikel ini.

Apa Anggota Dewan Legislatif itu?

Sebagaimana kita telah mafhum bersama, bahwa Anggota Legislatif adalah segelintir orang yang dipilih oleh masyarakat secara langsung untuk menduduki posisi sebagai Anggota Dewan. Tugas mereka ini yang (seharusnya) tidak kurang antara lain seperti:

1. Menganalisa kondisi dan persoalan-persoalan masyarakat baik yang sekarang maupun akan datang.

2. Menyusun konsep pemecahan.

3. Mendiskusikan dengan berbagai sudut pertimbangan politis, budaya, ekonomi, sosial, dsb.

4. Merumuskannya berupa undang-undang, sistem, konsep, dan program-program pembangunan.

5. Melakukan check and balance terhadap eksekutif sebagai pelaksana program pembangunan.

6. Dan keseluruhannya itu dibagi dalam berbagai lapangan sektor yang tersebar dalam 11 komisi, meliputi: Hankam, Pendidikan, Perindustrian & Perdagangan, Pendidikan, Hukum dan HAM, dsb.

7. Perlu ditekankan bahwa yang menjadi pertaruhan dari masing-masing sub kecil sektor di atas adalah nasib 240 juta orang penduduk Indonesia.

Jika ditanyakan, orang YANG BAGAIMANA yang seharusnya menempati posisi demikian strategis, tentu sebuah pemikiran logis akan menjawab: Orang yang memiliki ILMU PENGETAHUAN TERKAIT dan (minimal) ilmu manajemen politik, serta KEMAMPUAN dalam pengorganisasian di bidang SOSIAL POLITIK. Ini karena lapangan yang dihadapi adalah lapangan politik. Jika lapangan yang dihadapi adalah ekonomi, semisal jajaran kursi panas Bank Indonesia, maka yang dibutuhkan adalah orang berkualifikasi ekonomi. Demikian seterusnya untuk bidang pendidikan, kesehatan, penelitian, dsb. Dalam politik, pertimbangannya makro, resiko sosial yang dihadapi sering lebih besar dari resiko kerugian material.

Untuk itulah maka bertebaran sekolah-sekolah ilmu sosial dan politik, dengan harapan bahwa anggota dewan harapan banyak orang adalah mereka yang disebut sebagai the Right One in the Right Place. Dengan ILMU PENGETAHUAN dan KEMAMPUAN serta PENGALAMAN, tidak ada istilah TRIAL and ERROR untuk mengundi nasib orang setanah air.

Siapakah Selebriti itu?

Lantas, jika demikian yang disebut sebagai Anggota Legislatif, siapakah Selebriti itu? Tentu mudah sekali jawabnya. Selebritis (alias Artis) adalah insan-insan yang berkiprah di dunia entertainment, baik sebagai model, aktor/aktris, biduan/biduanita, presenter acara-acara TV, dsb. Intinya, selebriti adalah orang yang terjun menjalani bidang entertainment ini beserta segala pernak-perniknya. Gambaran tugas yang dijalani oleh selebriti antara lain seperti:

1. Shooting (aktor, model)/pemotretan (model)/pameran (model)/rekaman (penyanyi).

2. Road show ke kota dan daerah-daerah.

3. Loby-loby menjalin kerja sama sponsor. Tapi bagi mereka yang bergabung dalam sebuah Rumah Produksi, maka mereka tidak perlu repot-repot melakukan pekerjaan ini.

4. Demi profesionalitas, beberapa dari mereka menambah ilmu dengan bersekolah/kursus singkat di sekolah-sekolah seni, baik seni peran, seni suara, dsb.

5. Untuk menjaga ‘kepercayaan diri’ dan memenangkan ‘persaingan pasar’, mutlak dibutuhkan rutinitas perawatan tubuh dan penampilan.

Ada beberapa motivasi orang menjadi selebriti:

1. Menjadikan dunia seni/entertainment sebagai karir dan jalan hidup (seperti misalnya Christine Hakim, Sujiwo Tejo, Chrisye, dsb). Mereka ini yang memang idealisme dan ‘dunia’nya adalah seni. Tidak peduli sesulit apapun kondisi dunia seni, mereka akan tetap bertahan untuk berkarya.

2. Mendapatkan peluang dan kesempatan, meskipun disadari sejak awal ini bukan cita-cita. Bisa dikata, seni sebagai sambilan pekerjaan. Biasanya mereka ini yang rela mengorbankan seni demi cita-cita mereka yang sesungguhnya.

3. Mendapat peluang dan menjadikannya penghidupan serta sumber ketenaran, bukan benar-benar atas dasar idealisme dan kecintaan terhadap seni. Selayaknya kumbang di taman. Jika seni tak lagi berprospek materi, mereka tinggal menarik diri dan mencari lahan baru yang asri. Untuk yang ini, terlalu banyak contohnya untuk disebutkan.

Dua kategori yang terakhir ini yang seringkali mencoreng dunia seni dengan tingkah pola a la bangsa tak berpendidikan dengan kasus-kasus narkoba, perselingkuhan, dan omong kosong sejenisnya.

However, baik selebriti dalam kategori yang ketiga dan kedua, apalagi yang pertama, tentulah PENGETAHUAN, KEMAMPUAN dan PENGALAMAN yang terbentuk menjadi reflek adalah dalam hal seni menghibur orang, berekspresi, berpura-pura, pandai menampilkan diri di hadapan orang (meskipun apa yang dibawakan sama sekali berbeda dengan yang dialami dan dirasakan), dan bahkan menyampaikan pesan-pesan tertentu (atau bisa pula tanpa pesan sama sekali, yang penting main bagus dan honorpun mulus). Tidak jarang mereka harus membangun profil sesuai dengan pesanan rumah produksi atau sponsor produk tertentu. Jika hal-hal tersebut dirasa bertentangan dengan norma atau hati nurani, jawaban standar telah disiapkan dengan matang: INI ‘KAN SEKEDAR TUNTUTAN PROFESI.

Antara 2 Sudut Pandang: Langkah Strategis dan Politik Idealis

Fenomena artis maju menjadi calon anggota legislatif dapat dilihat dari dua sudut pandang: Kita sebagai Parpol, atau Kita sebagai Rakyat.

Pertama, sebagai parpol, tentu yang menjadi sasaran adalah bagaimana mengumpulkan suara masyarakat sebesar-besarnya. Semakin besar jumlah suara terkumpul, semakin besar pula jumlah kursi (berikut pengaruh suara di parlemen) yang didapatkan. Untuk itu, mereka memikirkan bagaimana cara yang efektif untuk meraih suara masyarakat.

Rupanya, kualitas caleg yang disukai oleh masyarakat berbanding searah dengan kualitas intelegensi masyarakat itu sendiri. Di negara-negara maju yang masyarakatnya sebagian besar melek politik, memilih satu calon lebih didasarkan kepada track record politiknya serta kemampuannya dalam mengelola isu-isu riil di masyarakat. Itulah sebabnya kita mengenal sistem debat calon presiden di negara adidaya Amerika Serikat. Maka, di negara yang sedang berkembang (apalagi yang terus menerus dalam keadaan sedang), dimana masyarakatnya rata-rata intelegensi menengah (atau) ke bawah, kualitas caleg pun menjadi diobral habis-habisan. Mereka tidak perlu cerdas dan cemerlang dalam jejak rekamnya, karena bukan itu yang masyarakat ingin lihat. Masyarakat hanya butuh ‘kenal’ bahwa mereka adalah ‘orang baik’. Maka keputusan Parpol untuk menggaet para tokoh pesohor kumbang taman tersebut jelas keputusan yang STRATEGIS. Karena hal ini akan berpeluang besar mempertebal pundi-pundi suara mereka.

Namun, jika Kita sebagai Rakyat menganalisa dengan harapan sistem politik berjalan secara yang seharusnya (kami sebut sebagai Politik Idealis), maka artis maju menjadi caleg adalah sebuah kebodohan yang terencana. Entah direncana oleh parpol, maupun oleh sang artis itu sendiri. Disebut ‘terencana’ karena tidak mungkin mereka melakukannya dalam keadaan ‘setengah sadar’ macam mereka baru dibangunkan dari tidur lelap.

Menyoal Artis sebagai Komunikator yang Baik

Ada analogi sederhana untuk persoalan ini: Jika anda memiliki penyakit jantung, siapakah yang anda tuju untuk berobat: Dokter Spesialis Jantung atau Ahli Tata Rias Kecantikan? Hanya orang yang tersesat jalan berpikirnya saja yang menjawab pilihan kedua. Poinnya adalah, untuk menjalankan sesuatu tugas yang spesifik dalam suatu bidang (apalagi yang menentukan hajat hidup kita), tentu sangat ceroboh dan tidak bertanggung jawab untuk menyerahkan kepada yang bukan ahlinya. Mengapa? Karena persoalan di hadapan tidak seperti meniup balon yang jika meledak kita bisa membeli baru untuk sekali lagi mencoba.

Ikang Fawzi beropini bahwa ‘Artis adalah Komunikator yang Baik’. Mari kita bertanya dengan segenap kemampuan akal pikiran:

1. Bagaimana caranya menyelesaikan efek krisis finansial global dengan KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BAIK?

2. Bagaimana caranya merumuskan konsep pembangunan pendidikan yang terlunta-lunta dengan KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BAIK?

3. Bagaimana caranya membangun fondasi hukum dan HAM di Indonesia dengan berbekal KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BAIK?

4. Daftar pernyataan ini dapat kita perpanjang dengan menyorot pada soal-soal yang sekarang sedang dihadapi oleh DPR.

Jika memang artis memiliki KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BAIK, maka lebih tepat jika mereka mendaftar sebagai JURU BICARA KEPRESIDENAN, menggantikan Andi Malarangeng yang sekarang sedang bertugas. Bukankah itu adalah the Right One in the Right Place? Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Anggota Dewan membutuhkan pengetahuan dan kemampuan seputar masalah sosial politik. Dan kebutuhan itu tidak dapat diganti spare part dengan keahlian memoles diri dan merangkai kata-kata cantik.

Sejauh kita mengikuti berita perkembangan perpolitikan di Indonesia, adakah berita-berita tentang karya-karya kalangan dewan dari background artis? Saya sendiri tidak pernah menjumpai. Dalam sidang-sidang hearing, pengajuan ide hak angket pada eksekutif, perdebatan seputar persyaratan partai dan calon presiden, dan lain-lain tema, tidak pernah dijumpai mereka-mereka ini membuka mulutnya. Mereka yang bersuara adalah anggota dewan dari latar belakang politisi murni atau akademisi. Dimanakah letak peran KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BAIK?

Inilah yang disebut di atas sebagai ‘pembelaan yang tak relevan’. Dan bukankah guyonan, gurauan dan ungkapan-ungkapan tak relevan adalah salah satu yang khas dari suatu parodi? Apalagi yang ditampilkan oleh bocah-bocah bukannya orang dewasa.

Epilog

Mengapa semua ini bisa terjadi? Sejauh dapat kami jangkau, ada beberapa hipotesis menarik dari kami di balik Lenong Bocah 2009 ini:

1. Kalangan parpol, sesuai target setoran dan analisa pasar yang mereka lakukan, jelas mengharapkan terdongkraknya suara melalui figur-figur tempelan dalam etalase partai mereka. The real think tank adalah mereka-mereka yang ada di balik layar pertunjukan masing-masing partai.

2. Kalangan artis (sebagai selebriti kategori ketiga), tentu tak menyia-nyiakan potensi yang mereka miliki akan ketenaran dan sekaligus peluang mendapatkan penghidupan.

Sebagai ilustrasi, apakah anda mengenal nama-nama berikut ini?: Marini Zumarnis, Ikang Fawzi, Derry Drajat, Raslina Rasyidin, Jaja Miharja, Mandra, Rano Karno, dsb. Ya, mereka adalah artis-artis yang ‘pernah’ booming, namun akhir-akhir ini ditelan oleh persaingan pasar. Mereka sepi sumber penghidupan padahal kebutuhan hidup terus menekan. Dan, bukankah politik di Indonesia menjanjikan ladang uang penuh kesuburan?

Jika mereka beralibi itu karena kepedulian pembangunan bangsa dan negara, kita patut bertanya: Kemana saja mereka selama ini sehingga baru sadar sekarang? Dan apa yang mereka kira telah mereka perbuat dengan segala ‘suri tauladan’ yang diberikan kepada masyarakat lewat gaya hidup mereka, pergaulan, glamourisme, dan lain-lain permata keindahannya?

Persoalan sosial politik di negara kita adalah persoalan yang pelik dan rumit. Ia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kapabilitas yang mumpuni untuk menghadapi. Sangat tidak bertanggung jawab apabila mengorbankan kepentingan masyarakat demi pembenaran-pembenaran pribadi yang sama sekali tak relevan dengan persoalan. Semoga tulisan ini mampu menjadi wacana bagi masyarakat, sebelum mereka menentukan sikap politiknya.

Dan janganlah kau mengikuti apa-apa yang kau tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan hati akan dimintai pertanggung jawabannya.

(Q.S al-Isra’ 36)