Oleh: Andriansyah

[49:13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (AL HUJURAAT ayat 13)

Pengantar

Sejak awalnya, Allah menciptakan Adam dan Hawa dalam keadaan memiliki beberapa perbedaan dalam hal fisiologis maupun sifat masing-masingnya. Berlanjut kepada dua putra mereka pun, Qabil dan Habil, memiliki perbedaan satu dengan yang lain, khususnya, dalam hal sifat diri dalam menyikapi persoalan (lihat Q.S al-Maaidah ayat 27). Dan hingga keturunan mereka yang paling mutakhir, KITA, memiliki banyak hal yang berbeda satu dengan yang lain: Geografis, Bahasa, Budaya, Kepribadian, Minat, Bakat, dan sebagainya. Namun bagaimanapun, tetaplah bukan tidak ada persamaan universal antara keseluruhannya. Paling tidak, seluruh umat manusia memiliki satu identitas yang sama: DICIPTAKAN DENGAN MISI KHALIFAH FIL ‘ARDY (Q.S al-Baqarah ayat 32).

Sebagai gambaran keragaman umat manusia, di Indonesia saja terdapat sekitar 726 ragam bahasa[1], 31 suku bangsa[2], 5 agama resmi dan 980 organisasi kepercayaan[3]. Ini masih di Indonesia saja. Maka bisa dibayangkan betapa ramainya macam ragam tata kehidupan umat manusia di seluruh dunia.

Kenyataan bahwa umat manusia, yang diprediksi mencapai angka populasi 7 milyar pada tahun 2012[4], hidup dan saling berinteraksi bersama segala perbedaan mereka membawa pada munculnya resiko gesekan dan konflik. Oleh karenanya, PERBEDAAN kemudian menjadi isu yang cukup sensitif. Khususnya PERBEDAAN AGAMA dan/atau IDEOLOGI.

Sejarah kelam NAZI Jerman, Perang Dunia I dan II, Konflik Berdarah di Ambon-Poso-Sampit, dan yang sejenisnya merupakan contoh-contoh riil bagaimana PERBEDAAN AGAMA dan/atau IDEOLOGI dapat menjadi bencana bagi manusia itu sendiri. Sebagian kalangan, seperti misalnya Jaringan Islam Liberal, The Wahid Institute, dan yang semacamnya, menganggap (dan meyakini benar-benar) bahwa sebab segala kebinasaan dan musibah itu adalah karena tiap-tiap Pandangan yang ada senantiasa menyatakan diri sebagai YANG BENAR atau YANG PALING BENAR, sementara YANG SELAINNYA ADALAH SALAH. Sikap absolutisme ini yang kemudian (diyakini) memunculkan sikap arogansi terhadap person atau kelompok lain yang berbeda pandangan, dan pada akhirnya saling bermusuhan satu dengan yang lain.

Sebagai solusinya, mereka menawarkan (dan mempropagandakan) konsep Pluralisme sebagai jalan keluar atas persoalan ini. Diharapkan, dengan dijunjung tingginya Pluralisme ini maka tiap orang dan kelompok akan mampu menghargai satu dengan yang lain. Sehingga pada akhirnya dapat terhindar dari permusuhan dan pertarungan. Sejak kanak-kanak, melalui Pendidikan Kewarganegaraan, budaya, opini publik, platform partai politik, hingga isi khutbah jum’at, senantiasa menanamkan pandangan Pluralisme ini. Lambat laun, umat Islam seakan kehilangan motivasi untuk menegakkan dan memperjuangan agamanya di tengah serbuan agama, budaya dan ideologi yang selainnya. Karena memandang, ‘Toh semua agama/ideologi pada dasarnya sama benar, yang penting kan berbuat baik’.

Yang menjadi persoalan di sini adalah bahwa seakan-akan segala musibah tersebut terjadi karena masyarakat tidak mengikut Pluralisme. Bahwa seakan-akan persoalannya ada pada absolutisme masing-masing kelompok. Inilah yang kami sorot menjadi pokok persoalan di sini. Benarkah anggapan ‘Absolutisme sebagai biang kerok persoalan’ itu dapat dibenarkan? Benarkah PLURALISME menjadi solusi yang tepat atas bencana yang muncul akibat gesekan perbedaan pandangan pada manusia?

Pengertian Pluralisme

Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.” Atau dalam bahasa Indonesia : “Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).”[5]

Sedangkan menurut MUI, Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.[6]

Jika kita kerucutkan, Pluralisme terbentuk dari dua kata: plural dan isme. Plural artinya adalah jamak, beragam, tidak tunggal. Sedangkan isme bermakna sebagai suatu pandangan dan keyakinan hidup seseorang atau masyarakat. Isme seringkali diasosiasikan dengan ideologi, seperti halnya Liberalisme, Nasionalisme, Sosialisme, dan sebagainya. Maka, dari sini pluralisme dapat diartikan tidak hanya sebagai suatu hubungan sosial yang rukun-teratur, melainkan pandangan bahwa segala realitas yang jamak adanya adalah sama-sama benar. Dan oleh karenanya tidak dibenarkan untuk saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Rukun-teratur adalah implikasi dari pluralisme.

Membedakan Pluralisme dengan Sikap Toleransi

Dari paparan di atas dapat dipahami tentang substansi Pluralisme. Yang perlu kita luruskan berikutnya, dan akan menjadi topik utama selanjutnya dalam artikel ini, adalah mendudukkan antara Pluralisme dengan Sikap Toleransi.

Toleransi berasal dari bahasa Latin; tolerare artinya menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Sikap toleran tidak berarti membenarkan pandangan yang dibiarkan itu, tetapi mengakui kebebasan serta hak-hak asasi para penganutnya.[7]

Jadi, dapat dipahami bahwa Toleransi TIDAKLAH SAMA DENGAN Pluralisme. Pluralisme adalah paham yang menganggap semua ide/pandangan adalah sama benar. Sedangkan Toleransi adalah sikap untuk saling menghargai meski memiliki perbedaan, tanpa harus mengakui semua pandangan adalah sama benar.

Perbedaan serta Absolutisme sebagai sebuah Keniscayaan

Di pengantar artikel ini telah dipaparkan secara jelas bahwa PERBEDAAN dalam kehidupan umat manusia adalah sebuah hal yang niscaya, pasti. Hal ini berangkat dari fitrah manusia itu sendiri yang memiliki perbedaan dalam beberapa aspeknya. Untuk itu, tidak dapat dikatakan bahwa terjadinya konflik serta perpecahan adalah disebabkan karena perbedaan itu. Banyak contoh di sekitar kita yang meskipun kita berbeda tapi tidak berpecah belah satu dengan yang lain. Lebih tepatnya dikatakan bahwa perpecahan itu terjadi karena penyikapan kita terhadap realitas perbedaan tersebut.

Ketika seseorang atau golongan memiliki suatu pandangan tertentu, dan berbeda dengan yang selainnya, ia menyatakan diri sebagai yang BENAR atau PALING BENAR. Yang selainnya SALAH. Ini yang disebut sebagai sikap ABSOLUTISME. Apakah sikap ABSOLUTISME dapat dibenarkan?

Dalam hukum logika (hukum identitas dan hukum non-kontradiksi), dinyatakan bahwa A adalah A dan A tidak mungkin = B. Menjadi aksioma bahwa 1 + 1 = 2. Jika ada yang menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 atau 4, 5 dst, maka pernyataan itu jelas tidak dapat dibenarkan. Karena secara obyektif dalam operasi perhitungan dengan variabel-variabel yang tersebut maka 2-lah jawaban yang benar. Jika statement ‘1 + 1 ≠ 2’ dibenarkan, niscaya hancurlah peradaban umat manusia karena tidak ada perhitungan pasti dalam matematika, ekonomi, arsitektur, fisika nuklir, dsb. Singkatnya, ketika kita menyatakan satu ide sebagai ide yang BENAR, secara otomatis hal itu sama dengan menyatakan bahwa ide yang lain (yang berbicara masalah yang sama dengan variabel yang sama) adalah SALAH.

Oleh karenanya, ketika PLURALISME menyatakan diri bahwa pandangan PLURALISME ini-lah yang BENAR, secara otomatis, ia menyatakan bahwa orang-orang yang TIDAK PLURALISME (alias ABSOLUTISME) ADALAH SALAH. Di sini pun kita lihat bahwa PLURALISME pun sesungguhnya juga meng-ABSOLUT-kan dirinya sendiri.

Poinnya adalah bahwa sikap ABSOLUTISME, sikap membenarkan diri dan menyalahkan yang lain, adalah sebuah keniscayaan hukum logika ketika manusia memahami dan mengungkap kebenaran akan suatu realitas. Tentu saja di sini kita berbicara dalam kerangka epistemologis, belum pada tataran aksiologis (penerapan). Karena sejauh kami pahami, yang akan dijelaskan berikutnya, bahwa sesuatu yang BENAR tidak harus ditegakkan secara konfrontatif (kekerasan) dalam pergaulan sosial.

Maka, jika ada Pandangan, Agama atau Ideologi yang menyatakan diri BENAR, tidak secara eksplisitpun sebenarnya mereka telah sama dengan menyatakan bahwa Pandangan, Agama atau Ideologi yang lain adalah SALAH. Lebih jauh, tidak dapat dibenarkan jika ada pandangan yang menyatakan bahwa SEMUA AGAMA dan/atau IDEOLOGI ADALAH SAMA BENAR. Kenapa?

Karena kelimanya berbicara tentang 1 realitas yang sama, yakni AGAMA (atau IDEOLOGI), namun memiliki pemahaman yang berbeda. Bahkan, Allah SWT dalam Islam misalnya, menyatakan bahwa diriNya (dan Islam) berbeda dengan yang lain. Padahal pada masa itu telah ada Yahudi dan Nasrani. Logikanya, jika memang ketiganya adalah SAMA, buat apa Allah SWT menurunkan risalah ‘baru’ kepada Muhammad. Bahkan dalam prakteknya pun, Rasulullah Muhammad, orang-orang Yahudi serta Nasrani pada masa itu, merasa diri mereka masing-masing memiliki keyakinan dan prinsip hidup yang BENAR-BENAR BERBEDA. Jika Tuhan, Rasul dan Kitab suci jelas-jelas menunjukkan bahwa Islam adalah BERBEDA dengan yang lain, darimana logikanya kalangan PLURALISME menyatakan bahwa agama Islam adalah SAMA BENAR DENGAN AGAMA YANG SELAINNYA?

Bertoleransi tanpa Menanggalkan Kebenaran Obyektif

Dari paparan di atas, dapat kita pahami bahwa pandangan PLURALISME adalah salah. Dalam tataran epistemologis, tiap pandangan yang berbeda terhadap satu hal tidak dapat dibenarkan semuanya. Pasti hanya ada 1 yang benar, atau semuanya salah. Apakah lantas dengan kita menegakkan ABSOLUTISME = membawa pada perpecahan dan kehancuran? TIDAK SAMA SEKALI!

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa persoalan perpecahan dan pertikaian lebih disebabkan pada bagaimana penyikapan terhadap perbedaan. Perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui dialog pertanggung jawaban secara ilmiah untuk menemukan pandangan yang mana/yang bagaimana yang benar. Dan tidak ada kompromi untuk sebuah kebenaran (!). Dengan proses dialog secara ilmiah, akan dapat teruji secara obyektif mana pandangan yang benar dan mana yang salah. Disinilah letak absolutisme harus ditegakkan. Bagi pihak yang secara ilmiah terbukti salah, maka harus secara gentleman mengakui kesalahannya, meskipun merasa sulit untuk meninggalkan keyakinannya. Jikalau ternyata terbukti salah secara ilmiah, namun tidak mau mengakui hal tersebut, maka sepertinya kita semua sepakat menyebut sikap yang demikian sebagai TIDAK TAHU MALU.

Ketika dialog pertanggung jawaban selesai, ketemu mana yang benar dan yang salah, perkara untuk mengikuti dan menjalankan adalah pilihan masing-masing subyek. Meskipun telah jelas-jelas salah, tapi jika seseorang tetap meyakini pendapatnya (karena pola berpikir dogmatik, misalnya), maka tidak perlu orang yang satunya mengambil langkah-langkah semaunya sendiri untuk ‘menghabisi’ orang tersebut. Jika ingin berusaha mengubah perilaku orang tersebut supaya pandangannya yang salah tidak meluas pada masyarakat, maka gunakan cara-cara yang sesuai dengan aturan main masyarakat. Jika masyarakatnya berkonstitusi, maka gunakan jalan-jalan konstitusional untuk melakukannya.

Inilah yang dimaksud dengan SIKAP TOLERANSI. Yakni, mendialogkan dengan pertanggung jawaban ilmiah setiap perbedaan konsep, serta tetap menghargai meskipun pada akhirnya tetap tidak berubah sikap. Perkara mengubah perangai orang tersebut, maka gunakan alat yang sesuai fungsinya, yakni hukum dan lembaga sosial. Inilah yang kami sebut dengan BERTOLERANSI TANPA MENINGGALKAN KEBENARAN OBYEKTIF.

Rasulullah di Madinah jelas-jelas mempraktikkan hal tersebut. Beliau TIDAK MEMBENARKAN PANDANGAN YAHUDI DAN NASRANI SAMA SEKALI, namun beliau benar-benar menjaga sikap TOLERANSI itu. Hukuman kepada Yahudi berupa pengusiran maupun hukuman mati pun diberikan atas dasar pengkhianatan mereka sendiri terhadap perjanjian yang telah disepakati bersama.

Kesimpulan

Dari keseluruhan penjelasan, maka dapat disimpulkan bahwa PLURALISME adalah pandangan yang salah. Bahwa, khususnya dalam hal perbedaan agama dan agama, kebenaran hanyalah TUNGGAL. Untuk menghindari perpecahan yang mungkin terjadi akibat perbedaan tersebut, solusinya bukan kembali kepada ide PLURALISME, melainkan mengembangkan SIKAP TOLERANSI tanpa menanggalkan kebenaran obyektif.

Oleh karenanya, kami sarankan kepada seluruh PENEGAK PLURALISME untuk berhenti MEMPROPAGANDAKAN PLURALISME karena pandangan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan. Propagandakanlah ABSOLUTISME yang menghidupkan SIKAP TOLERANSI, tanpa harus menanggalkan keyakinan bahwa ISLAM adalah satu-satunya agama yang benar (saya kira yang disebut terakhir ini telah menjadi asumsi dasar, sehingga tidak diuraikan pembuktiannya disini).

Allah SWT menciptakan perbedaan untuk saling mengenal. Yang mana ketika seseorang mengenal DENGAN BAIK orang yang selainnya, niscaya akan dapat saling memahami dan bertolong bantu. Karena disadari bagaimanapun manusia satu dengan yang lain akan saling membutuhkan, meskipun memiliki perbedaan pandangan Agama dan/atau Ideologi. Dan jika Tuhan, Rasul serta Kitab Suci (ketiganya sebagai pemilik, penyebar, dan arahan pelaksanaan agama) menyatakan secara tegas bahwa Islam adalah TIDAK SAMA BENAR DENGAN AGAMA YANG LAIN, maka patut dipertanyakan secara serius: Darimanakah datangnya pandangan yang menyatakan bahwa AGAMA ISLAM ADALAH SAMA BENAR DENGAN AGAMA YANG SELAINNYA?

Hanya dengan semangat ABSOLUTISME umat Islam akan mencintai agamanya dan memperjuangkannya. Yang menjadi soal bukanlah ABSOLUTISME itu sendiri, melainkan Apakah absolutisme itu didasarkan atas PERTANGGUNG JAWABAN YANG ILMIAH?