Assalamu’alaikum…

Tulisan ini adalah lanjutan dari dialog yang membahas tentang Islam itu esensinya Agama atau Ideologi. Kesimpulannya secara umum, telah dipahami bersama bahwa Islam adalah ajaran yang tidak hanya menuntut untuk ditegakkan dalam kerangka subyek individu saja, melainkan secara esensial ia adalah ajaran yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam hal ini cita-cita yang diharapkan adalah membentuk tatanan sosial masyarakat yang baik. Dengan demikian, secara intisari, Islam adalah Ideologi.

Pertanyaannya kemudian, yang juga merupakan topik perdebatan berbagai kelompok dalam Islam (hingga memunculkan keputusasaan dalam umat Islam sendiri untuk mendialogkan), adalah apa dasar nilai dari ajaran Islam itu sendiri, yang kemudian menjadi acuan untuk membangun tata hidup sosial di masyarakat? Ada beberapa perbedaan pendapat berkenaan dengan hal ini. Dengan sederhana: Apa dasar nilai dari ideologi Islam?

Fazlur Rahman, dalam bukunya yang berjudul Islam, menunjukkan bahwa dasar nilai dari Islam adalah KEADILAN SOSIAL. Artinya, seluruh ajaran-ajaran Islam itu selalu ditegakkan dalam kerangka KEADILAN. Dan ini pula yang nantinya menjadi acuan dalam menyusun sistem sosial kemasyarakatan.
Sedangkan Sutan Sjahrir, salah seorang tokoh politik nasional, mengungkapkan bahwa esensinya Islam adalah SOSIALISME RELIGIUS. Artinya, masyarakat KESAMA-RATAAN EKONOMI yang RELIGIUS.
Berbeda dengan kebanyakan umat Islam sekarang, seperti diwakili oleh Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, dsb, dasar nilai Islam dipandang esensinya adalah DEMOKRASI/PLURALISME.

Dalam sudut pandang saya (mencoba untuk menyumbang pemikiran), Islam tegak di atas dasar nilai KESEIMBANGAN. Kita bisa melihat bahwa seluruh alam semesta jagad raya memiliki hukum-hukum yang seimbang, SESUAI DENGAN FITRAH OBYEKTIF masing-masing. Planet tidak mungkin mengitari Matahari. Air dalam suhu sekian derajat akan menguap jika asumsi normal. Dengan asumsi yang berbeda, maka hukumnya juga berbeda mengikuti dari variabel-variabel yang terkait. Demikian pula dalam kehidupan sosial di masyarakat. Semuanya memiliki HUKUM KESEIMBANGAN YANG OBYEKTIF.
Orang yang bekerja adalah sebuah keharusan, karena dengan bekerja akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, dengan jalan yang lurus. Cara bekerja yang tidak seimbang (tidak sesuai dengan fitrah atau hukum obyektifnya) akan dapat mengakibatkan kerusakan individu dan sosial.
Misalnya: Tidak memenuhi kebutuhan hidup (kaum sufisme), memenuhi secara berlebihan (konsumerisme), memenuhi dengan cara mencuri yang bukan miliknya dan bukannya bekerja, dan sebagainya.
Semuanya didasarkan pada satu kaidah: BAHWA ALLAH SWT MENCIPTAKAN SUNATULLAH YANG TIADA AKAN PERNAH BERUBAH.

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [1169], dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka [1170] dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S ar-Ruum 30-33)

Ibarat sebuah sepeda motor, yang setiap bagiannya (bahkan yang terkecil sekalipun seperti mata rantai roda) memiliki hubungan keterkaitan sistemik. Jika ada satu saja bagian yang ‘tidak berjalan sesuai dengan fitrahnya’, maka sepeda motor tersebut tidak akan berjalan secara sehat. Dan jika diteruskan atau dipaksakan, akan terjadi kerusakan, baik bagi motor itu sendiri dan pada akhirnya kepada pengemudi motor itu. Demikian pula ajaran Islam.

Ajaran Islam yang dalam AQ dan AH seakan-akan praktis dan parsial sekali (seperti hukum potong tangan bagi pencuri, hukum waris, dsb) mestilah memiliki kedudukan dan fungsinya yang akhirnya secara sistemik akan dapat membentuk kepada suatu tatanan masyarakat yang seimbang, apabila masing-masingnya dipahami fungsi dan kedudukan ‘fitrah obyektifnya’.

Demikian pula dalam kehidupan aqidah. Jika orang memahami segala kompleksitas dan hukum-hukum serta keberadaan realitas alam semesta jagad raya, maka kesemuanya itu akan membawa pada pemahaman mutlak bahwa TUHAN ITU ADA, beserta segala sifat-sifatnya yang tidak dapat dibandingkan kemuliaannya dengan sifat-sifat makhluk.

Jadi dari sini, dalam pandangan saya, Falsafah Hidup atau Nilai Dasar dari ajaran Islam adalah KESEIMBANGAN itu sendiri.

Wassalamu’alaikum…