Assalamu’alaikum…

Sebagai muslim, menjadi hak sekaligus kewajiban bagi kita untuk memahami esensi ajaran Islam yang sesungguhnya. Banyak perbincangan tentang apa esensi Islam sesungguhnya. Bila dikerucutkan, pandangan itu mengarah kepada dua kemungkinan: Islam itu hakekatnya adalah AGAMA, ATAU Islam itu hakekatnya adalah IDEOLOGI?

Jika Islam adalah Agama, maka ia hanya mengatur kepada persoalan-persoalan ritualistik serta upaya-upaya mendekatkan diri kepada Allah semata. Ia tidak akan mengatur persoalan-persoalan hidup kemasyarakatan, karena tujuan Agama adalah MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN.
Tapi jika Islam adalah Ideologi, maka ia akan mengatur kepada keseluruhan persoalan hidup masyarakat. Apakah hanya umat Islam saja yang diatur? Tidak. Pengaturan ini berlaku bagi seluruh alam semesta. Islam adalah pandangan dunia, pandangan hidup alam semesta.
Dan jika Islam adalah Ideologi, secara otomatis, dia mencakup segala bidang, termasuk di dalamnya adalah persoalan ritual keagamaan.

Pada dasarnya, seluruh umat Islam di seluruh dunia pasti sepakat jika dikatakan bahwa Islam adalah ajaran diin yang sempurna dan melingkupi kepada keseluruhan sistem hidup manusia dan alam semesta. Yang menjadi persoalan kemudian adalah ‘citra’ istilah Ideologi yang terlanjur lengket dengan ‘kepentingan subyektif’, permainan kotor, dan sebagainya. Sehingga Islam yang semula dipahami sebagai keseluruhan sistem hidup, menjadi ditolak ketika dibawa dalam kerangka pembangunan sosial masyarakat.

Justru saya melihat bahwa Islam itu esensinya di Ideologi. Tanpa ditegakkan sebagai Ideologi, Islam bukanlah Islam itu sendiri. Sejarah para Rasul telah memberikan teladan kepada kita, bahwa nilai Islam substansinya selalu ditegakkan ke dalam sistem sosial masyarakat. Itulah cita-cita hidup Islam: MEMBANGUN TATANAN KEHIDUPAN TUHAN-MANUSIA-ALAM berdasarkan FALSAFAH NILAI ISLAM.

Pertanyaanya kemudian: Apakah Dasar Nilai Ideologi Islam?